Saturday, September 10, 2022

And I did It Again - Crying So Hard When The Queen Died

Di post ini, besar harapanku untuk berhasil menguak kenapa aku segitu nangis bombaynya kalau ada kakek atau nenek-nenek meninggal. 

We will see ya, apakah aku berhasil cari tau atau nggak. 

Kemarin, aku bangun pagi dan kaget ngeliat kabar dimana-mana kalo Queen Elizabeth meninggal dunia di umur lebih dari 90 tahun. Selama ini aku suka banget ngeliat beliau, perhatian ama stylenya, suka liat foto-fotonya atau sepak terjangnya. Tapi nggak sampe jadi Royal Family addict gitu ya. Aku cuma enjoying aja, nggak sampai kepo segitunya. 

Tapi dari dulu ngerasa kagum sama beliau, cewek, dari remaja udah jadi queen, sampai sepuh, tua, tapi kadang masih nyetir mobil sendiri dan nggak pake kursi roda. Cewek tangguh yang super tangguh gitu di mataku. Ya meskipun aku tau ya, dibaliknya pasti ada puluhan orang yang bantu, mulai dari sekretaris pribadi, mba di istana, sampai ke dokter paling oke se Inggris buat stand by jaga beliau. 

Tapi hari Jumat pagiku kemarin sungguh kelabu. Hujan sendu gloomy, liat channel TV berita luar dan twitter buat ngikutin updatenya. Nangis sesenggukan ga berhenti, dan ini mengingatkanku ke momen aku nggak bisa berhenti nangis waktu tau Eyang Sapardi meninggal dunia. 

Dan jadi pertanyaan besar, kenapa ya aku segitunya? Ini seperti sebuah pola yang aku harus cari tau kenapa. 

Aku nggak kenal langsung sama mereka. 
Kalau ada orang meninggal, apalagi tokoh, wajar kalau kita ikut sedih, merasa kehilangan.
Tapi aku sampai nangis sesenggukan nggak berhenti, seolah-olah itu kakek nenekku sendiri. 

Kenapa ya?











Apakah Queen Elizabeth ini merepresentasikan sosok ideal yang aku idamkan?
Aku punya nenek (Almh) yang hangat juga, dan aku ngerasa hubunganku sama nenekku selalu spesial. Jadi aku suka ngeliat interaksi antara Queen dengan cucu dan cicitnya. Aku suka gimana Queen tetep berwibawa tapi tetep bisa sweet sebagai nenek yang hangat. Mungkin aku nangis segitunya karena aku kangen nenekku? Karena aku pengen bisa ditemenin beliau lebih lama? Aku pengen cerita banyak update kehidupan ke beliau? Bisa jadi.. 

Melihat hubungan Queen sama suaminya, Prince Philip juga selalu bikin hatiku hangat. Di tahun kemarin waktu Prince Philip meninggal aku nggak nangis sama sekali, tapi cukup deg-degan membayangkan gimana Queen melewati situasi sulit ini. 
Mungkin selama ini aku pengen bisa melihat langsung hubungan yang hangat ini di orang-orang terdekatku, tapi belum ada kesempatan. Aku pengen tau atau diyakinkan kalau hubungan yang survive sampai kakek nenek setua itu, sangat mungkin untuk kejadian. Aku nggak pernah ketemu kakek dari Mama (pasangan almh nenekku), padahal menurut cerita semua orang, he was the sweet guy, warm dad, and super husband. But i am so sad, I can not see their interaction in live. Not even a video, only photos. 

Jadi melihat Queen meninggal, nyusul suaminya di tahun lalu, aku ngerasa nggak ada cute-powerful old couple yang bisa aku nikmatin lagi video atau foto terbarunya. 

Moment jumat kemarin aku nangis sesenggukan nggak berhenti itu karena aku harus merelakan semua bayangan ideal aku tentang couple yang stay together and powerful seperti mereka. 

Mungkin kah itu jawabannya? Maybe ya... 


Friday, June 24, 2022

After Party: Reflections on My 30th Birthday





Hi there, how are you?


It is me, Hana, again. Eh, wait, the new 30 yo Hana. 

The new type of Hana, I think? Hehe.. Writing on this blog again from Starbucks GBK on my leave day. 

I have to wait for this day when finally all my awkward things about the 30th birthday disappear and I can start to write down all my thoughts and feelings. 

Maybe almost one month before my birthday, some thoughts constantly pop up in my head. These thoughts about the other pathways that I did not take in my life. The analysis starts from here.

The longest discussion and analysis is for the major that I really like but I can not pass. Called FSRD ITB, hehe. Too much "what if" when I think about that. What can I be right now if I keep pursuing that major? Becoming an illustrator rather than a psychologist? Or took a master's degree in Art Therapist? (win-win solution if after graduation I suddenly have a curiosity to learn about counseling or art intervention to help people?)

Who will I meet when I stay at Bandung during my college year? Did I become Teteh-teteh gaul Bandung? Or becoming an expert about Kuliner Enak Bandung- things?

The next analysis (or maybe the right word for this was "overthinking"?) is for my career. What if I choose to stay in my last company? or What if I join as PNS and build my career there? or What if I have the right amount of confidence and brave level to start my own private consultant? 


And the third is about the business. What if I keep all my business before taking my master's degree and becoming a psychologist? Is my business keep growing and become a passive income for me? What if I turn around and continue the journey? Is it late?


Next about my husband. What if I said no to Bang Rizal? What will happen? Would Bang Rizal still reach out to me and give his best to ask me again about my decision? To get married to him? Or He will go and my chance to be married in my life was closed?


And another thought that comes and go about other pathways or chances. 


But I know for sure. I can say that every decision that I took for maybe 25 years of my life, there was a junk decision but still a lot of good or maybe best decisions too. 

Maybe I still have curiosity about the closed or unchosen door during my life, but I keep reminding myself that I can make or open another door. I can knock-knock on the new door in my next step. 

I am forever grateful for all crossing or intersection paths that I found during this journey. I am forever grateful for all decisions that I made and their impact on me until this age. 





Cheers, Hana Chan.
Keep wondering, keep exploring, life is full of surprises, enjoy the ride. 




Monday, May 30, 2022

When You Carry A Severe Procrastination

 And you want to be free as soon as possible..

So, what will you do Han?

Aren't you super tired?

You want to try something new, your 30 yo waiting for you 2 weeks later.

Do you want to bring the same amount of baggage in the new age?

Please, save yourself. 


Sunday, May 1, 2022

Mixed Feelings That Always Come Consistent



Sejauh yang aku ingat, sepertinya aku selalu konsisten punya mixed feelings menghadapi malam takbiran. 

Antara sedih, menyesal, marah sama diri sendiri, seneng, excited, berasa dikasih kesempatan baru, kangen, pengen nangis karena kangen, penuh syukur, ada takut dan ada cemasnya juga. 

Pokoknya ini malam yang sebenernya agak aneh, karena di satu waktu ngerasa puluhan emosi. Dan setiap tahun selalu begitu.

Jadi, malem ini, mumpung ini super pengalaman baru seumur hidupku, aku mencoba mengkristalkannya dalam bentuk tulisan. 

Seperti biasa, dengan tujuan membuat Hana di lima atau 10 tahun lagi, bisa baca dan nangkep apa yang sebenernya aku rasain malem ini. Membuat analisa baru, membandingkan, atau sekedar merasa sudah "tumbuh" adalah tujuanku menulis impromptu seperti malem ini. 

Sambil ditemenin kopi nggak panas, dan nggak dingin - plus sayup-sayup takbir menggema dari musholla sebelah rumah, dan lagu Tentang Rumahku - Dialog Dini Hari aku dengerin dari headset. Diputar berkali-kali. Lagu ini selalu berhasil bawa banyak memori. Sudut-sudut rumah Umik, kebiasaan waktu kecil, dan perasaan yang tiba-tiba hangat. 


Dear Hana Chan, 

Kamu tau, setiap keluarga punya kebiasaan masing-masing menghadapi Hari Raya Idul Fitri.

Mulai dari kebiasaan Mama, kebiasaan Almh. Umik (nenekku), dan sekarang aku menghadapi kebiasaan baru, kebiasaan di rumah Mama mertua di Malang.

Ini pertama kalinya aku merayakan Idul Fitri nggak bareng Mama. 

Ini pertama kalinya aku merayakan Idul Fitri di Malang.

Ini pertama kalinya aku tanya detail, seperti apa kebiasaan besok hari.

"Ma, setelah sholat Id ntar ngapain dulu?"

"Ada tamu jam berapa kira-kira?"

"Trus nanti akan ke rumah siapa dulu?"

"Kue yang disiapin nanti apa?"

"Hana bantu apa Ma?"

"Apa yang belum atau kelupaan belum dibeli Ma?"


Sebelumnya?

Kebiasaan Almh. Umik dan Mama, aku uda hapal di luar kepala. Mau pake wadah apa buat lontong, mau keluarin kue kering berapa toples, ntar tamu dateng siapa aja, disuguhin apa aja, sampe susunan meja makan dan bunga segar yang biasa dibeli sebelum hari raya.

Lucu ya?

Dan sekarang sambil nulis uda mulai nangis karena kangen dan memori tentang Almh. Umik di malem takbiran dan hari raya muncul satu-satu. Al-Fatihah buat Umik tersayang, manisku, cintaku, sayangku. Semoga selalu lapang, terang kuburnya, dan diterima semua amal ibadah Umik, amiiin. 


(nafas dulu, nggak kuat kangen)

Malem yang super mixed feelings. Sungguh ajaib ya Allah. Engkau bisa menghadirkan puluhan emosi di waktu bersamaan. 

Subhanallaah. Allahuakbar.


Tapi dipikir-pikir, 

Manusia akan selalu dituntut buat adaptasi di lingkungan baru kan ya? Di tahun awal-awal menikah, sepertinya kata adaptasi adalah "highlight" semua orang, termasuk aku.


Loncat dikit nggak papa ya, 

Tapi tiba-tiba aku inget banget doaku beberapa tahun yang lalu, pengen dapet mertua yang bisa aku layanin, yang bisa aku ajak ngobrol panjang. Dan subhanallah, Allah kabulin doaku. 

Rasanya, aku kangen banget melayani Almh. Umik yang uda meninggal sekitar 7-8 tahun lalu. Dan sekarang, Allah kasih aku second chance, dengan subyek yang beda, Mama dan Abi. 

Subhanalllah, aku juga baru sadar beberapa hari lalu waktu bukber sama temen-temen S1. Mereka tau aku se-clueless apa setelah Almh. Umik meninggal.

Tiba-tiba meluncur dari mulutku, "Aku bersyukur banget, Allah kaya kasih aku kesempatan kedua lewat Mama mertuaku".. Dan aku diem dulu habis ngomong itu, kaget sendiri. 


Balik ke mixed feelings yang aku rasain, 

Aku sedih banget karena kayanya aku tuh ngerasa ditemenin sama bulan Ramadhan. Aku akhir-akhir ini sering banget ngerasa sendiri, kesepian, dan waktu dateng bulan Ramadhan tuh semua tiba-tiba membaik. Ngerasa punya semangat, ngerasa "oh orang-orang juga melakukan ibadah yang sama kaya aku"... Ngerasa nggak sendiri. Ngerasa ada yang ditunggu (waktu berbuka), dan nggak ada yang bisa mengalahkan sensasi teh hangat melewati tenggorokan waktu buka puasa. 


Dan Ramadhannya uda pergi hari ini. Rasanya kaya ngelepas sahabat jauh pulang ke rumahnya. Rasanya nggak siap kesepian lagi. 


Aku juga ngerasa menyesal, masih sering kalah sama hawa nafsu dan perasaan kantuk/capek. Ngerasa marah sama diri sendiri, karena nggak bisa penuhin banyak target. 

Target ngaji sampe juz berapa

Target olahraga

Target pola makan

Target ibadah-ibadah sunnah lainnya.


Rasanya, ya Allaah andai ya kemarin itu aku.. 

Andai aku bisa gini.. 

Andai aku nggak sakit punggung

Andai aku mau ngeluangin waktu konsisten tiap habis subuh

Andai aku bener-bener perhatiin olahraga jadi energiku nggak low banget

Daan andai-andai lainnya. 


Tapi ya nggak papa Han, kamu masih manusia kan, bukan robot? Menyadari apa yang terjadi di dirimu, emosimu, apa yang kamu pikirkan, pola-pola apa yang terjadi, itu adalah goals sebenernya. 


Target-target pencapaian, harus A-B-C, boleh banget ditentuin di awal. Tapi kalaupun nggak tercapai, kamu juga harus tau kalo itu sama sekali nggak papa. Ada banyak hal yang nggak bisa kamu kontrol untuk bener-bener memastikan target itu tercapai 100%. 

Untuk reminder, ada banyak yang sebenernya nggak bisa kamu kontrol, contohnya:

- Your period time

- Waktu sahur kebangun atau nggak, meskipun uda pake alarm banyaak, tapi kadang yang bisa bangunin cuma adzan Shubuh. 

- Load kerjaan yang tiba-tiba banyak, tiba-tiba low. Bikin agak susah ngatur ritmenya

- Tiba-tiba syaraf kecepitmu kambuh lagi, 

- Kebiasaan di rumah Malang seperti apa, dst. 


It's oke. Makasih Hana uda mau terus berusaha memaksimalkan waktu di bulan Ramadhan. Kita coba lagi tahun depan ya. 


Di akhir tulisan ini, Aku pengen spesifik menulis doa yang akan aku rapal berkali-kali malem ini. 

Ya Allah, Ya Rahmaaan, Ya Rahiiim

Ya Allah, izinkan aku ketemu bulan Ramadhan tahun depan.

Ya Allah, terimakasih buat kesempatan merasakan Ramadhan tahun ini yang begitu berwarna.

Ya Allah, terimakasih buat nikmat dan perasaan "ditemani" selama Ramadhan ini.

Terimakasih buat perasaan hangat selama satu bulan full. 

Terimakasih buat semuanya. 



Selamat jalan Ramadhan, aku tunggu tahun depan ya. 


Friday, March 18, 2022

Garden, Not Machine




 


I think I need to look at my daily life with a different approach.

WFH seems to look easy, I've lost 3 hours dealing with traffic jams. But, after two years, I knew something wasn't working.

I need variety. I need something to remember, that today is a new day. A different day than yesterday or tomorrow. I realized, since two years ago, I tend to see myself as a machine. Big machine. Keep working from one to-do list to another. Pushing myself with early deadlines. Purchase candles and aromatherapy oils or coffee from recipe to recipe.

I always crave new things. Something that gets me excited again, something that gets my adrenaline pumping, something that I can remember, that today is a new day.

I try to see myself as a garden from now on. What do I need as a big garden today? Is today the right time to harvest? Or do I need more water today? Or do I just want to relax and enjoy the breeze?

So, today I chose to work from a new coffee shop. I enjoyed the soy latte and tuna pastry for breakfast. And I feel much better. Just a little change and a big difference happened.

Friday, February 11, 2022

Yes or No?

 Hi there, 


Sorry for the extra-long despair. 

I miss you, white page on my blog. I really miss you. There's a lot happened in my life. Too much, and I found it difficult to start telling you what happened. 

But today, I need an extra shot. 


I need to boost my mood and figure out what happens to me. This week goes slowly and harder than before. I got my period, so Monday, I cancel almost all clients on that day. I thought Tuesday until Friday will go smoothly. But NOT. 

I need an extra shot of caffeine until I make a poem for tea just to say thank you. 

"Thank you tea for coming into my life, I need to explore you deeper until I can't miss caffeine harder"


So let's start with play Yes or No

Hai Hana, how are you?

Are you tired? Yes

Are you overwhelmed? Oh yes

Are you don't know what happened lately? Yes

Are you feeling bored and want something sparkle new? Yes

Are you feeling embarrassed when looking at yourself in the mirror? Yes

There is something that passed to your mind and you struggling to catch up? Yes, a lot.

Are you afraid? Yes, too much. 

Are you feeling lonely? Yes. 

Are you don't know what to do? Yes



Oke, I think so much going on in your life right now. Hang in there Han

Please take care of yourself as a little baby. Slowly.




Monday, August 16, 2021

Coffee and Me

Hana beserta love and hate nya sama kopi. Complicated relationship. 

Proses trial error berkali-kali, pause jeda lama kemudian kangen, dan perjalanan mengalahkan hawa nafsu serta merasa cukup. 


Kompleks. 

Hubunganku sama kopi, nggak akan pernah sederhana. Seperti minuman dengan tenggorokan. Ada ekspektasi besar dari dalam diriku akan kopi. Ada beban besar yang ia tanggung setiap kali aku seduh. 

Browsing bermenit-menit via aplikasi, mencoba peruntungan kemungkinan diskon dan harga jadi fantastis. Kemudian menyerah, atau menang? Dengan menutup aplikasi, dan jalan ke dapur mau bikin kopi sendiri. 

Ada berjenis-jenis kopi di rumah. Mulai dari kopi robusta, nescafe classic, kopi sachet, kopi rempah khas arab, kopi dari berbagai daerah di Indonesia. Lengkap, nggak kurang. 

Bahan pemanisnya juga ada, mulai dari gula aren semut, gula merah, gula putih, gula tanpa kalori, sampe krimer. You name it. 

Kamu cukup Han, apa yang kamu punya sekarang lebih dari cukup. 


Energi dan semangat membara yang kamu harapkan muncul, sesekali juga jangan dibebankan 100% ke kopi seduhanmu. Ada banyak faktor lain, ada proses tidur cukup, olahraga, kena sinar matahari, makan makanan bergizi seimbang, proses metabolisme lancar, emosi terkelola dengan baik.

Kemudian aku bertanya, dimana letak kopi? Di list pertama. Di list keinginan, tapi bukan kebutuhan utama. 

It's good to have a wonderful cup of coffee, but it's great to build other habits too. 


Belum lagi berjam-jam yang aku habiskan untuk melihat alat-alat canggih tapi rumahan untuk membuat kopi. Update kapan barang itu diskon. Atau berjam-jam aku browsing dan bandingin resep bikin kopi mirip kopi kenangan. Trus (terburu-buru) mau coba ikutin resepnya, yang kadang mirip sampe mau nangis, kadang nggak. 

Kupikir-pikir, nikmatnya kopi kenangan tuh ada di proses jalan turun lift, ngobrol sama Putri sampe outletnya, liat orang-orang sibuk ama HP nya sambil antre, liat mas-masnya bikin kopi, kemudian kopi kita jadi, dan seruputan pertama. Nah itu puncak nikmatnya. 

After that? Kalau grafik nih, mulai menurun nikmatnya sepertinya. 

(OMG, panjang juga tulisan saporadis dan impromptu tentang kopi ini)

But after that, please berusahalah untuk mencintai kopi sewajarnya. Nggak perlu kasih ekspektasi berlebihan, karena nanti mulai muncul benci, yang bersumber dari ekspektasimu itu. 

Selamat Senin!💕


Monday, August 9, 2021

Let's Talk About a Dream

 Hi there.. 

Tiba-tiba kemarin weekend dapet insight ini, dan seperti biasa, berusaha menuliskannya di sini. 

So, i think i need to renew my definition about dream. Sejauh ini, aku selalu mengidentikkan mimpi dengan pencapaian akademis atau finansial. And i just realized, ternyata faktor pendorong aku punya mimpi terkait itu, lebih banyak dipengaruhi oleh faktor tidak memilikinya saat ini. Plus beberapa butir kecemasan dan ketakutan juga menjadi pendorong kenapa aku jadiin hal tersebut mimpi. 

Oh wait, mimpi di sini yang aku maksud lebih ke cita-cita ya. Bukan mimpi setiap hari waktu kita tidur. 

Lanjut.

Jadi menurutku, wajar banget kalo mimpi kita bergeser. Menyesuaikan dengan apa yang kita harapkan, atau apa yang sedang tidak kita miliki saat ini, atau motivasi dari perasaan takut tadi. Takut apa? Mungkin dulu aku takut nggak berdaya secara finansial, masih tergantung sama orang tua, atau justru takut nggak bisa penuhin kebutuhan orang tua kedepannya. Buat aku, cara yang paling mungkin untuk mengejar finansial tadi ya lewat sekolah. Akademis cukup penting, tapi buat aku ini hanya salah satu alat yang mungkin bisa aku pakai untuk memenuhi kebutuhan finansialku.

Nah, itu sepertinya alasan kenapa aku nggak pernah terlalu ambi dalam akademis. Kaya uda ayo kerahkan semua usaha dan coba apapun yang kamu bisa, belajar dari orang A-B, lewat buku ini itu, semua cobain. Tapi apakah mimpiku menjadi terbaik di bidang akademis? Nggak. 

Mimpiku terkait finansial tadi ternyata. Something bitter that i just realized too.


But somehow, walaupun aku baru menyadarinya, sepertinya mimpi itu uda mulai bergeser lagi. 

Menikah, struggling buat juggling kerjaan dan tugas domestik tiap hari, plus menghadapi pasangan sekarang mulai jadi sesuatu yang aku takuti juga. Jadi, memiliki keluarga, pasangan, tubuh, dan waktu yang prima mulai menduduki klasemen puncak list mimpiku. Finansial mulai bergeser, meskipun tetap salah satu goals.

Dulu, terkait keluarga aku nggak pernah ada masalah. Keluargaku cukup hangat dan jadi andalan banget buat semua kebutuhan periode hidupku. Tapi membangun keluarga, beda lagi ceritanya. 

Hmm, I don't know what I am talking about, but yeah.. I hope Hana in the next year can give us a better explanation about this. 


Wednesday, June 2, 2021

Life Update ver. 29

 Hei, look at you Han.. 

Duduk di lantai, ditemenin laptop, ringlight, dan kipas angin. 
Di kampung antah berantah, nggak kenal siapapun, kecuali suamimu. 

Barang belum di unpack berceceran di lantai. 
You didn't expect this scenario. But, life is so funny and full of surprises. 

Do you like it? 

Sakit tipes dan nggak ada makanan yang bisa dimakan kecuali bolen dan bubur SUN beras merah. Tentu saja, kamu bakal pilih bubur SUN. 

Sambil berharap nggak masuk angin dan punya kekuatan super buat beresin semua barang. Oh tentu saja, mengandalkan madu mahal yang uda dibeli kemarin sebagai tolak punggung kesehatan. Egois sekali Hana ini. 

Kasian si madu, menanggung beban berat. Kalau mau sembuh, ya tau batasan. Tau apa aja yang harus dibangun secara konsisten. Bukan instant dengan si madu. 

Tapi hidup kan emang seringnya selucu ini ya Han?
Meninggalkan 28 sebentar lagi. Umur yang aneh, semua terjadi tiba-tiba. 
Siapa sangka, di umur 29 aku akan jadi ibu-ibu yang mau nggak mau dateng PKK untuk bertahan hidup dan beradaptasi di kampung ini? Who knows? 

Nggak papa, skill buat memulai hidup dari titik 0 berkali-kali jadi skill yang mahal banget sekarang ini. Hang on there, semua akan baik-baik aja. You will get your life together. 


Sunday, May 23, 2021

Trying to: Interpret My Own Dream

 Hi there, besok Senin (again). Dan daripada bersusah payah tidur tanpa terlalu banyak kekhawatiran, aku memilih untuk me-list down all my feelings about the dream last night. 


Tadi malam, aku mimpi ketemu Hana kecil. Hana di umur 3-4 tahun. Belum punya adik, tapi uda teges banget jawab pertanyaan orang lain. 

Btw, ini bukan pertama kalinya aku bertemu diriku sendiri versi kecil di mimpi. Sebelumnya aku pernah ketemu Hana kecil di usia SD, mungkin sekitar kelas 4-5 SD. Nangis di dalem kelas, dan aku nonton dari jendela kelas sambil ikut nangis juga. Mimpi yang aneh, tapi waktu itu nggak sempet nulis detail. Padahal sebenernya waktu bangun dari tidur perasaannya super campur aduk. 

Nah agar kejadian serupa tidak terulang kembali, kali ini coba nulis dengan cukup detail mimpi ku semalem. Ideally, aku nulis ini panjang lebar tadi pagi, waktu baru bangun. Untuk menghindari bias memori. Tapi nggak papa lah ya, daripada nggak sama sekali. 

Di awal mimpi, aku masih inget duduk di tengah-tengah ruang tamu khas keluarga arab. Lesehan, pakai karpet tebel dan bantal-bantal kotak. Tiba-tiba Mama masuk ruangan itu sambil gandeng Hana kecil. Mukanya Hana kecil cenderung datar, pakai baju santai (seingetku kaos dan celana pendek), rambutnya keriting agak merah. 

Semua orang menyambut dan mempersilahkan Hana kecil ketemu aku. Aku yang awalnya bingung, memilih untuk menyapa seperti aku biasanya aja ketemu anak kecil. Dia cium tanganku. Kemudian orang-orang yang ada di ruangan itu mulai menjelaskan (berlomba-lomba menjelaskan) tentang Hana kecil ke aku, dan sebaliknya. Aku ketawa dan senyum-senyum aja. 

Ada beberapa percakapan yang aku inget, terkait adik dan profesi. 

Aku tanya ke Hana kecil: Han, kamu punya dua adik ya?
Hana kecil: Hah? Nggak, aku nggak punya adik. 
Aku jelasin lagi: Oh iya ya, belum lahir adiknya, bentar lagi ada Han. Namanya ini dan ini. 
Hana kecil: Oh gitu, kamu kenal?
(kemudian semua orang di satu ruangan itu ketawa)

Terkait profesi
Aku: Han, kalau gede ntar pengen jadi apa?
Hana kecil: Dokter!! (jawabnya lantang, teges)
Aku: Oh iya? Kenapa? Nggak mau yang lain?
Hana kecil: Iya kata Mama, aku cocok jadi dokter
Aku: Oh gitu, tapi gedenya ternyata kamu jadi psikolog Han, bahkan nggak ada keinginan kuliah kedokteran
Hana kecil: Psikolog? Apa itu?
Aku: (ketawa), iya Han, susah jelasinnya. Tapi kamu kayanya enjoy kok. 


Ada momen aku dan Hana kecil pelukan juga. Dan ada momen aku menatapnya dengan penuh kekaguman.

Dan hari ini, full aku habiskan untuk menginterpretasi mimpi itu. 
Kenapa ya? Apa maknanya?

Apa pesan yang berusaha disampaikan tubuhku atau alam tidak bawah sadarku ke aku?


Monday, March 8, 2021

Facing Monday Blues

Starting the rhytim on Monday morning always challenging for me. Terlebih selama WFH. Rasanya too much, banyak sekali yang harus dibereskan. 


Rasanya kaya jatoh dari Sabtu dan Minggu yang melenakan. Jatoh keras, terus diminta buat lari cepet lagi. Task dan to do list tiba-tiba jadi panjang kali lebar. Dan bingung harus mulai dari mana. So, I think it will be great if I start by writing on this blog first. 

Sometimes, writing in a journal (book) vs. writing on this blog gives me a different "after effect". I still don't know how to precise those feelings in more detail, but I know it is different.

Oh, blog, you know, I can trackback my habit, my feelings, my curiosity, my thought, or basically anything from you. I am so glad that I have you. Little Hana, Adolescence Hana, Not too Mature Hana, and Nowadays Hana (not sure am I mature enough?) always can count on you. 

19 days to go. Bismillah. 



Oh wait, can I start counting to the day on this blog? Should I?

Or

It is my unconscious mind try to push me and make me realize that I will have another role, another task in 19 days ahead?


Friday, February 19, 2021

Too Much Too Handle

Rush, deadline, annoying call or meeting, too much on my list kinda day. Sometimes I feel too much and wanna give up. But, after all.. I know that I work on myself and doing something that I like since the beginning. 


Maybe I need to slow down first. But 35 days to go. Can I?




Tuesday, January 26, 2021

Anger & Disappointed

Dua bentuk emosi yang sampe sekarang pun aku masih susah banget buat kelola in proper way. You know, perasaan ini kan bisa jadi muncul karena ada big issue yang tiba-tiba datang, atau bisa jadi kumpulan dari emosi-emosi sebelumnya yang belum selesai kita cerna. Tulisan ini dedikasikan buat diriku sendiri yang baru saja menangkap fenomena baru dalam merespon dua emosi tersebut. 

Sebuah usaha untuk memahami diriku lebih dalam, dan validasi emosi serta respon lebih jauh.

Semakin bertambahnya umur (ceilah), dua bentuk emosi ini, marah dan kecewa, sering kali berubah bentuk atau nebeng ke emosi-emosi lain, atau malah munculnya dengan volume yang nggak ketebak. Kadang tipis-tipis, kadang super bold. 

Kenapa ya? Apa karena kita berusaha kontrol emosi ini buat nggak "up" terlalu sering, atau kita yang mulai berdamai sama yang namanya ekspektasi? (konon ekspektasi adalah sumber atau trigger yang paling besar akan dua bentuk emosi ini- at least for me). 

Selain itu, aku juga baru sadar kalau respon yang aku tampilkan ketika merasakan emosi ini nggak bisa terus menerus sama. Begini misalnya, kadang aku marah dan yang aku lakuin adalah nangis diam-diam. Di kamar mandi atau depan laptop dengan bantuan playlist yang tepat. Tapi kemarin aku menyadari kalo "nangis" gitu aja nggak melegakan seperti biasanya. Muncul keinginan untuk menunjukkan ke semua orang kalau aku kecewa, aku marah, dan berharap mereka menyadari itu. Aku pengen menunjukkan respon supaya mereka notice kalo ini suatu hal yang besar, berdampak, dan aku nggak nyaman ada di posisi ini. 

Sebelum-sebelumnya, nangis diam-diam uda jadi senjata ampuh untuk mengeluarkan amarah. Nangis diam-diam dan menulis jurnal panjang lebar. Berusaha memetakan sumber kecewa atau amarahku, memahami pain pointnya dimana. Tapi untuk kejadian kemarin, senjata ini ternyata perlu di upgrade sedikit. Atau justru downgrade?

Bingung karena ternyata efek leganya tetap ada. Lega setelah "do something" yang akhirnya orang-orang sekitarku tau aku bener-bener nggak nyaman, kecewa dan marah. Mungkin ada sedikit perasaan di "betray" nya juga. 

"Do something" di sini bukan dengan lempar barang atau intonasi suara yang naik banget, bukan. Tapi dengan ngelakuin itu ternyata aku "berhasil" (mungkin) memperjelas posisiku, proyeksiin betapa kecewanya aku. 

I don't know. Tapi yang jelas aku masih perlu berusaha mengelola dua bentuk emosi ini lebih canggih lagi. Aku mau coba cari tau dulu. 

Thursday, December 10, 2020

Magrib, Tea & Marco

 


I think it is the perfect sunset I ever have. I feel so content, feeling so good with myself and grateful for everything that I have.

 

It's my first day of menstruation, but I don't feel the pain as worse as usual. I bring my cup of tea and standing on my balcony with Marco, my lovely cat. Sun goes down, adzan starts fills the air. The lamp turns on, and a bunch of small insects, aka laron comes.

 

At first, Marco busy with me, but after Laron come, Marco starts busy with them. He tries to run and show off some actions to catch up with them as much as he can. And, of course, eat them with his innocent face.

 

Oh, and the wind.. so kind and gently stroked my hair. After 30 minutes busy with his laron, Marco feels tired and comes back to me with a happy tummy (I guess).

 

So, I think about my life lately. And I start wondering, can I feel so content like this in my next step of life? Can I have some quality of me-time?  I don't know, isn't it something that I can not control at all? The future, the next step, tomorrow, or maybe one hour later. But I can crystalize all my feelings by writing them down in my blog right now. I can focus and keep the focus on the things that I can fully control.


Monday, November 30, 2020

Sometimes on Friendship



Sometimes, I feel like I can live alone forever

But sometimes, I feel like I can not live without my beloved friends

Sometimes, I think I don't need validation from anyone

But sometimes, I need to ask my friends about every little step that I want to take

Sometimes, I feel a burden in friendship, and I see my self as a bad friend

But sometimes, I long for great friendship and proud of me as a great friend

Sometimes, I can see my good friends as a soulmate, the other pieces from my heart

But sometimes, I can see my good friends as a great competitor who makes me run faster

 

Despite all my questions, I know for sure

Having such a good relationship and invest your effort to grow in that; are more critical than your blue-chip stock

 

Thank you, Shinta for everything. 

 

 

 


Monday, July 20, 2020

Identify My New Feeling Through This Post





Hi there, sampai sekarang aku masih bertanya-tanya tentang apa yang aku rasain dari kemarin. Bapak Sapardi meninggal dunia, dan aku jadi gampang sekali menangis tiap browsing twitter atau instagram terus ketemu postingan foto, cerita kebaikan hatinya, atau sebait puisi-puisi terkenalnya. 

It's kinda weird. Aku nggak kenal beliau secara langsung, nggak pernah secara khusus ketemu juga. Tapi kenapa waktu aku denger kabar beliau meninggal, rasanya sesedih ini ya? Apa selama ini secara tidak aku sadari, Pak Sapardi, sosoknya ataupun karyanya begitu bermakna dalam hidupku? Kenapa? Kenapa aku bisa sesedih ini?

I do love and admire him since.. i dont know, maybe for 10 years ago? Tapi bukan ngefans yang sampe gimana gitu, aku seneng sama cara beliau menulis, kesederhanaan kata yang ia pilih. Karya-karyanya bahkan ada yang bisa aku hafal selayaknya menghafal lirik lagu. Aku follow beliau di instagram dan twitter, seneng tiap liat postingan beliau dan selalu diam-diam mendoakan tiap liat foto atau postingannya, "Sehat-sehat Eyang, sehat terus". Sesekali komen di Instagram mendoakan kesehatannya. Aku juga tau betapa fleksibelnya beliau ketika berada di tengah-tengah anak muda, bahkan beberapa kali membuat buku bersama. Tapi aku nggak terlalu tertarik dengan itu. Yah bisa dibilang aku bukan hardcore fans yang apapun karyanya berusaha aku koleksi. Jadi kenapa aku bisa merasa begitu kehilangan? Bahkan nulis ini pun masih dengan air mata berlinang. 

Ya Allah sudah 3 paragraf tapi aku juga belum tau kenapa. 

Bagiku, Pak Sapardi ini layaknya kakek-kakek pujangga keren, wujud nyata dari gambaran pujangga di masa tua versi imajinasiku selama ini. Bahkan aku beberapa kali nge twit, Pak Sapardi ini sosok nyata, mendekati ideal, dari seorang kakek yang aku inginkan. Aku tumbuh tanpa peran seorang kakek, sedangkan aku cukup dekat dengan nenekku. Jadi sosok Pak Sapardi ini bisa dibilang wujud nyata yang menggambarkan kakek kebanggaanku, yang bisa aku bawa ke teman-teman dan aku ajak nongkrong bareng mereka. I love and admire his adaptation skill. 

Tapi kenapa ya aku juga merasa puisi Pak Sapardi ini bisa menjelma masuk ke diriku layaknya pelukan atau elusan kasih sayang dari kakek, dari teman, dari pujangga cinta yang mungkin sering aku dengar malam-malam sebelum tidur. Beberapa bait puisinya yang aku hapal mungkin secara nggak sadar keluar masuk kepalaku waktu aku lagi putus cinta, lagi jatuh cinta, lagi mengenal diri sendiri, waktu mellow, waktu butuh bahan untuk menggali emosi-emosi terdalamku.

Mungkin juga aku begitu merasa kehilangan karena sosok Pak Sapardi ini sangat sederhana, dari karyanya ataupun gaya hidupnya, tutur bicaranya, pilihan-pilihan baju dan kata-katanya. Dan itu konsisten. Apa yang bisa kita bayangkan dari bait puisinya, menjelam menjadi diri Pak Sapardi itu sendiri. Searah, authentic kalo bahasa leadershipnya. 

Sedangkan bagiku konsisten dari segi karya dan kehidupan pribadi adalah suatu hal yang maha dahsyat dan aku jadikan pegangan hidup. Pak Sapardi menang telak di situ. 

Oh iya, beliau juga akademisi. Selama ini agak sulit mematahkan pikiran atau asumsiku bahwa pekerja seni itu ya nggak mungkin bisa searah dengan hal-hal berbau akademisi. Ternyata Pak Sapardi mematahkan itu. Beliau mantan dekan, profesor pula. Karyanya nggak cuma puisi, tapi juga buku akademisi atau teori. You are perfect,  Eyang.

Mendengar dia meninggal itu rasanya begitu menyakitkan mungkin karena nggak banyak yang bisa memenuhi kualitas dan menunjukkan konsistensi sebaik Pak Sapardi bagiku. 

Rasa kehilangan buat aku nggak cuma nggak bisa melihat postingan kegiatan Pak Sapardi, tapi mengikhlaskan sosok kakek ideal yang nggak pernah aku punya juga ikut pergi. 

Selain itu mungkin karena seni, apapun itu bentuknya, adalah panggilan hatiku yang terus-terusan memanggil tapi selalu aku kesampingkan, kehilangan Pak Sapardi mengingatkanku juga dengan betapa lamanya aku absen dalam aktivitas-aktivitas seni yang selama ini aku sukai. 

I don't know, i still figuring out. Tahapan griefing sampe ke proses acceptance memang panjang sekali. But at least, I write what's on my mind and my heart through this post. 

Terimakasih Pak Sapardi, terimakasih atas karyamu, terimakasih atas sosok dan konsistensimu. Terimakasih sudah mewakili dengan nyata sosok manusia ideal yang bisa aku bayangkan, terutama untuk menjadi kakek. Istirahat dengan tenang, Eyang. 

Wednesday, June 17, 2020

GRATEFUL LIST TODAY

Hi there, I know.. I know... it is been a long time... but, here we go. Today, I am officially 28. So, I choose to start writing something on this blog again. I wanna say thank you for everything, everyone, that comes in my life.

Here is my grateful list for today :


  1. I am so grateful for my health. 2 months ago, I was laying on a hospital bed, dying. So, the fact that I can still live till today is magic. 
  2. For my family. For Mama, Sami, Bika who always here with me. Support me, help me, motivated me. I can not live without them. For Baba too, obviously.
  3. For you, you know who. Thank you for coming to my life.
  4. For my co-worker at Shopee Indonesia. Who trust my ability, my skill, and my opinion. Thank you for all opportunities. 
  5. I am so much grateful for my body. I know, sometimes I feel so ugly and can not stare myself in the mirror, but someday I feel so powerful, pretty, and awesome at the same time. The journey of loving myself still up and down, but it is completely ok.
  6. I always love it when I can see my self as a long-life learner. I have so much interest and willing to try something new.
  7. I am grateful for my dear friends. The new and the old. The warm and the cold one. Thank you for all conversation that we have lately.
  8. I always love cats. I am grateful that I had committed to pet some cats. 
  9. Thank you for every quote that comes to me at the perfect time when I need it. Quotes can always move me. 
  10. I love my decision to buy a kindle. So far it is the best spent last year.
  11. I am forever grateful for my home. For my room, my blanket, and my air conditioner. I can have a good sleep with them.
  12. I love the fact that almost three weeks, I committed to tracking my steps and exercises every single day.
  13. I love and feel so warm when I know that I can fall in love with everything about psychology every single day. Fall in love from the stretch. Start to learning about new or old topics. 
  14. I feel so much grateful to know and follow Ikonn Family. Mimi, Alex, and their child Alexa. I can have an ideal picture of a family that I want to build someday.
  15. I love F.R.I.E.N.D.S. And I love the fact that I can always smile, cry and laugh every time I watch it.
  16. Sending so much love and strength to all my clients. Online of offline clients who want to make progress with me, share some stories about their life, their hope, and their ability to face something.
  17. I love the fact that I always feel empty but happy every time I end up counseling sessions. I know sometimes I am draining, but I know that I am happy too.
  18. I am so much grateful for my goal in life: to help someone. That it's.
  19. Sending a lot of love for all my favorite podcasts: TED Work with Adam, Thirty Days of Lunch, Semur, CurhatBaBu and Inspigo Series. 
  20. I am grateful for all Ladang Lima's products, shirataki, quinoa, and Himalaya sea salt. 
  21. I love the fact that I have a dream to make oatmeal or almond milk and kimchi. Hehehe, level up of cooking game. 
  22. Oh, I am grateful for my new habit, to save more money and start investing. I know it is a long journey, but at least, I'm starting it. 
  23. I love board games so much! My family loves it too. So, I am so much grateful for knowing Kak Manda and her board game collection.
  24. I am grateful for the aroma of lemongrass. It always can make me calm and peaceful every time I sniff it.
  25. I am so much grateful that I meet the Bullet Journal method and Notion - super application. I just love them.
  26. Forever grateful for my sense of humor. Oh, I love my mom, Sami, and Bika sense of humor too.
  27. I am forever grateful for my late grandmother and the fact that I always feel warm when I talk about her.
  28. I love my self-awareness and the never-ending self-discovery process in my life. 

Happy birthday, Dear Hana. No Worries. Bismillah.

Sunday, February 2, 2020

Celebrate A New Hope




Hai Blog, super long time no see! (agak bosen ya pakai jumpstart ini, tapi ya gimana, liat archive, terakhir nulis bulan Agustus 2019 dan sekarang Februari 2020, hehe). 

Oke. Dengan semangat membara, aku mulai kepikiran untuk update life di blog ini, lagi. So, i did it. Malam ini ditemani flu dan demam dari kemarin lusa, dua keping biskuit Biscoff dan secangkir kopi Janji Jiwa (i dont really like it, but still oke). So this night, i wanna make one or two paragraph about "how i need to celebrate hopes that come to my life"

Sebenarnya, beberapa minggu ini, di pekerjaan baruku, aku lagi struggling banget nemuin semangat buat berangkat kantor setiap harinya. Btw, aku pindah kerja ke e-commerce orange sebulan terakhir ini, and it was so good. Masalahnya bukan terkait pekerjaan atau tempat kerja, tapi lebih ke dalam diriku sendiri. But i know for sure, yang paling susah dalam hidup adalah gimana caranya bisa mempertahankan semangat, motivasi, atau apapun itu untuk melakukan rutinitas kita setiap hari. 

Aku sudah mencoba berbagai macam hal, ada beberapa yang berefek cukup lama, dan ada yang berefek sebentar banget. Awalnya sih gemes, kenapa ada yang efek lama dan sebaliknya. Tapi lama-lama, aku sampai di satu kesimpulan. Han, its oke. Nggak papa dan nggak ada masalah buat terus menerus cari cara, buat setiap hari coba hal baru, eksperimen sama dirimu sendiri, semata-mata buat ningkatin semangat itu. Jangan down kelamaan kalau ada cara yang nggak berhasil. Coba pelan-pelan cari cara lainnya. Dan mungkin, hal ini harus kamu lakuin sepanjaaang hidupmu. Mungkin nanti di umur 30 an mu, tantangan cari semangat buat bangun tiap hari jauh berbeda dengan umum 20 tahunanmu. Every single day you have to search those ways. And now, i am totally oke with that. 

Selain itu, aku juga sampai ke kesimpulan lainnya. You need a hope. Not only one, but lot of hopes. You need to celebrate it with people around you. New hopes bertindak sebagai bahan bakar paling mahal yang bisa push dirimu sendiri buat lari lebih kenceng dan keluar dari "kotak nyamanmu". Have a new hope will be the best way to push your motivation. So, please make times to celebrate hopes. Please do cheers, hugs, and hold other's hand when celebrate it. 

Seperti tadi sore, tiba-tiba aku punya ide buat kegiatan yang bisa kita bertiga lakukan (Aku, Mama dan Bika) selama weekend. Kegiatan yang memang kita bertiga suka, nggak makan cost banyak, justru berpeluang menghasilkan pundi-pundi baru. Bola mata Mama membesar, bahu Mama naik, dan sampai malam ini, nggak denger keluhannya tentang hal-hal yang memang biasa ia keluhkan. So i order three cups of coffee for us. I need to celebrate this new hope. Oh and it feel so fucking awesome. 




Saturday, August 17, 2019

Perfect Night

image from pinterest
Hai you. It's been a supeeer loong time I didn't write and update this blog. But, tonight I push my self to jump in. Open blogger. So...

Ini malem minggu yang sudah aku cita-citakan sejak lama, sejak beberapa bulan yang lalu. Malem yang aku berasanya baik banget sama diriku sendiri. No coffee, no meals after 7 pm, taking bath with warm water and The Ikonns's podcast, use a mask, exfoliate my skin, candles everywhere, and a calm mind to start writing again. Andai setiap seminggu sekali aku bisa rutin kaya gini. Pengandaian yang selalu jadi andai-andai di siang bolong ya Han, hehe..

After taking care of my body, I always feel so kind and ready to face everything. I feel so good without help from a good cup of coffee.

So, how's life?

Life is good actually. Setiap hari ada tantangan baru, yang kadang butuh beberapa waktu buat adaptasi. Hmm, sebenernya aku nggak tau harus mulai dari mana. Tapi, as you know me, setiap aku nulis di blog ini, aku berusaha memastikan tulisanku memang hal yang sedang atau baru saja aku rasakan, atau terjadi dalam hidupku, atau aku sadari. Pokoknya aku berusaha authentic, ceilah. Jadi, sebenernya dengan tulisan ini, aku cuma mau cerita kalau aku habis berbuat sesuatu yang baik sama diriku. Bukan sesuatu deng, lebih ke serangkaian kegiatan merawat diri yang selama ini aku tunggu-tunggu. More post tomorrow? I really hope and ready for that. Wish me luck.

Friday, April 19, 2019

Fall in Love with Being Alive Again

I hope
There are days when your coffee tastes like magic
Your playlist makes you dance
Strangers make you smile
And the night sky touches your soul
I hope you fall in love with being alive again
< > Home
Powered by Blogger.
Passion Journal © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.