Showing posts with label life lesson. Show all posts
Showing posts with label life lesson. Show all posts

Sunday, August 20, 2017

Nasehat Bisa Datang Dari Mana Saja

Hari ini diingetin Pak Gojek di perjalanan ke Stasiun Bekasi mau balik ke Depok. Katanya waktu liat Baba di teras rumah tadi, dia inget almarhum ayahnya. Trus dia pesen selama orang tua masih ada jangan sia-siain buat nggak ngabisin waktu bareng mereka. Main sama temen ada masanya, bisa ditunda. Tapi kalau ngabisin waktu sama orang tua itu nggak bisa ditunda dan harus selalu jadi prioritas. Im totally agree with that. 
Seminggu sekali, dari Jumat malam sampe Minggu malam, aku dedikasikan waktu buat Mama dan Baba. Ngelakuin apapun asal sama mereka berdua. Dari makan siang-malem bareng, masak bareng, bikin roti, beberes rumah, diskusi receh, diskusi negara, nostalgia jaman dulu, bicara masa depan, cerita sahabat nabi, cerita kuliah, ngajarin mereka aplikasi baru, apapun. Sempat perasaan bosan datang menyelinap, tapi segera aku buang jauh-jauh, karena -betul kata Pak Gojek tadi- aku nggak mau menyesal seumur hidup. 
Dunia nggak akan kemana-mana, nggak usah dikejer. Ridho, doa, dan surgaku ada di mereka berdua. 
Terimakasih sudah mengingatkan, sekaligus menguatkan Pak Gojek! 

Thursday, March 23, 2017

Captain Fantastic, I am Amazed


Tadi malam, saya ada waktu untuk sedikit bernafas. Dan saya memanfaatkannya buat liat film. Search random di IMDB, dan kemudian memutuskan streaming online film Captain Fantastic. Im happy because i decided to watch this film.

This film was so great i think. It makes me think about how crucial the effect of  parenting in your life. Bagaimana pengasuhan orang tua, it shape your life. And i don't know, somehow i want to be a  mom who teach my children how to life, saya ingin jadi orang tua yang bisa ngasih bekal anak-anak untuk bisa survive hidup di jamannya nanti. Bukan jadi orang tua yang memastikan bahwa masa depan anaknya akan baik-baik saja. Karena kita punya limit dalam hidup ini. Kita akan terpisah jarak, terpisah jaman, terpisah waktu, dan terpisah karena hal-hal lain yang memang tidak bisa kita pastikan. Dunia kita akan sangat berbeda dengan dunia mereka. Yang bisa kita lakukan hanya memberi bekal sebanyak-banyaknya, agar ia siap menghadapi dunianya sendiri nanti.

Orang tua juga sebaik-baiknya guru. Jangan cuma berhenti difungsi orang tua untuk pengasuhan. Orang tua harus mampu jadi role model, jadi guru, jadi tempat bertanya apa saja, dan bisa menempatkan diri untuk situasi apapun saat berhadapan dengan anaknya.

Dan satu lagi, saya ingin suatu hari nanti, semua makanan minuman yang saya makan, baju yang saya pakai, aksesoris, sepatu, dan lainnya, benar-benar saya lakukan sendiri prosesnya, dari hulu sampai hilir. Saya ingin menanam banyak tanaman untuk sumber makanan, budidaya ayam, dan hewan lainnya, membuat baju dan aksesoris saya sendiri.

Dan sebenarnya tantangannya adalah, bagaimana dengan pola hidup yang sudah kita atur sedemikian rupa, kita tetap bisa jadi bagian dari masyarakat luas. Tidak lantas memisahkan diri, karena kita merasa jalan pikir dan prinsip hidup kita beda. Maka, pintar-pintar menyeimbangkan antar keduanya adalah solusinya.

This film is worth to watch. Family is everything. Do watch, please.

Sunday, March 5, 2017

HOW PROFESSIONAL ARE YOU?

Saya banyak berpikir mengenai hal ini beberapa hari terakhir. Saya mengamati dan mendengar banyak cerita dari orang-orang sekitar saya tentang masalah ini. Semakin profesional seseorang, ia akan memperlakukan orang lain dengan sebaik-baiknya, tanpa memperdulikan siapa orang itu, bagaimana kedudukannya dalam masyarakat, apa pekerjaannya, apa agamanya. Semakin profesional seseorang dengan background pekerjaan apapun, ia akan berupaya bagaimana dengan kehadirannya ada orang lain yang merasa terbantu, bagaimana ia bisa memberi manfaat sekecil apapun itu.

Saya mulai berpikir tentang hal ini karena curhatan Mama beberapa malam terakhir. Rekan kerjanya ada yang bisa dikategorikan profesional dan sebaliknya hanya dengan cara ia memperlakukan orang lain. Menurut saya dan Mama, tingkat profesional seseorang tidak harus terlihat ketika ia memimpin, tidak juga saat ia menduduki suatu posisi penting, atau dalam keadaan ekonomi yang berkecukupan. Satpam perumahan, petugas sampah pun juga ada yang profesional dan ada yang tidak. Dalam hal ini terkadang kita salah memahami, salah memberi persepsi.

Kita melihat tingkat profesional seseorang seiring dengan posisinya, apa pekerjaannya, bagaimana keadaan ekonominya. Padahal itu kriteria yang semu, yang bisa kapan saja hilang dari orang itu. Banyak sekali orang dengan ekonomi berlebih, memimpin suatu perusahaan besar, atau punya kedudukan yang tinggi, tapi tidak terlihat sikap profesionalnya sama sekali. Tapi ada juga dengan keadaan yang sama, memiliki sikap profesional yang membuat banyak orang kagum. Seperti keadaan yang saya alami beberapa waktu lalu. Saya sedang ada di suatu mall. Saya melihat bapak-bapak dengan tampilan sangat rapi, layaknya bos besar. Saat akan keluar dari sebuah kedai kopi, ia tidak segan membukakan dan menahan pintunya untuk segerombolan anak-anak ABG yang mau masuk, dan tetap tersenyum ramah. Menurut saya, bapak itu bisa dikategorikan profesional karena beliau tidak segan melakukan hal yang remeh temeh untuk orang lain yang tidak memiliki kepentingan dengannya. Ia mau melayani. Dan inisiatif untuk melayani, membantu orang lain, tanpa ada kepentingan dibaliknya cukup susah ditemui di jaman sekarang ini.

Semakin tinggi posisi kita, semakin tinggi ilmu kita, semakin baik ekonomi kita, seringnya kita lupa bagaimana caranya melihat manusia lain sejajar dengan kita. Kita terbiasa melihat orang lain dengan anggapan bahwa ia berada jauh di bawah dan merekalah yang harus melayani kita.  Di sisi lain, kita tetap merasa profesional karena posisi dan hasil kerja kita,  lupa kalau profesional itu tidak terbatas ruang dan waktu.

Tuesday, February 7, 2017

THE HARD PART : SEARCHING MOTIVATION

I remember, waktu itu saya pernah ngerasa aneh karena terus menerus baca tulisan tentang "how to life better" atau liat youtube tentang "morning routine" dan ngerasa dapet semangat lagi habis baca atau liat video itu. Saya nggak suka (atau lebih tepatnya, belum bisa suka) drama korea, atau hal-hal berbau korea lainnya yang bikin candu. Jadi kalau ada temen yang komentar kok sempet banget ngeliat youtube tentang rutinitas orang-orang, saya juga sama herannya, kok mereka sempet dan mau banget nungguin episode drama korea tiap minggunya sampai begadang.

Sampai saya melihat video ini :



Lucu ya, saya waktu itu ngerasa "Oh jadi selama ini saya ngeliat video itu atau baca-baca tulisan itu karena saya berusaha cari sumber motivasi, saya berusaha menyemangati diri sendiri. Dan let me tell you, its the hard part of your life. Jungkir balik cari hal-hal yang terus-terusan bikin kamu semangat ngejer deadline, ngejer target, ngejer mimpi, ngejer apapun yang kamu yakini. Semangat itu harus kita sendiri yang aktif nyari, nggak mungkin ada orang yang akan terus menerus nyemangatin kita pagi-siang-malem. Dan meskipun ada, kadang rasanya beda sama semangat yang kita dapet dari hasil pencarian kita.

Waktu mulai semester kaya sekarang ini, kadang pikiran bisa stuck. Bawaannya pengen review dan review lagi, "why im here?" atau "what im looking for?" perasaan kaya gitu bisa banget buat hari tiba-tiba kelabu. Bawaannya pengen ngeringkuk terus di dalem selimut. Apalagi buat saya pribadi, semester dua ini terlihat berat sekali. Sampai-sampai di awal semester kemarin kita dibekali semacam pelatihan 3 hari berturut-turut yang tujuannya sebagai tabungan memori kalau nanti kita merasa nggak mampu menyelesaikan semester ini, atau kalau kita dirundung emosi-emosi gelap yang selalu mendorong kita buat nyerah aja.

And, I'm here now. Nulis blog lagi. Berusaha menuhin komitmen buat terus tetep nulis apapun yang terjadi semester ini. Dan sepertinya ini sumber motivasi yang besar banget. Saya bercakap-cakap dengan diri saya sendiri. All is well, Han. Semua akan baik-baik saja. Kamu pernah melewati yang lebih berat dari ini. Kalau nanti kamu ngerasa suntikan semangatnya habis, ya nggak usah merasa bersalah banget, itu wajar. Cepet-cepet cari sumber semangat yang baru. Selama ini kamu sudah sering melakukan itu. Just do your best. :)

Friday, November 13, 2015

I PREFER MONOTASKING NOT MULTITASKING

Hi peoplee. 



Sebelum ini saya selalu berpikir kalau orang yang bisa multitasking di satu waktu itu keren banget. Misalnya dia bisa ngetik sambil sesekali searching, atau bisa jawabin email sambil makan siang. Menurut saya, itu menghemat waktu dan yaah, harus terus-terusan dilatih. Saya pun berusaha buat multitasking, atau lebih tepatnya kecanduan buat multitasking. Saya ngobrol sama Mama sambil buat power point, atau bikin to-do-list buat besok sambil nonton serial turki, dan lebih banyak lagi yang ekstrim, seperti dzikir habis solat sambil cari ide buat produk baru. Yang terakhir ini bikin sedih banget. 

Secara nggak sadar, saya terus berusaha, memaksa diri untuk bisa multitasking di setiap kondisi. Sampai saya sampai di titik jenuh dan capek yang berlebihan. Kenapa?

Pertama, saya ngerasa hasil kerja saya nggak bisa selesai maksimal. Bawaannya capek kalau mau dikoreksi lagi. Kedua, saya butuh waktu yang sangat lama untuk menyelesaikan satu tugas. Lamaaa sekali. Misalnya untuk mengetik sebuah tulisan yang sudah terkonsep (saya hanya tinggal menyalin jadi word saja) butuh waktu sampai 1 jam lebih. Karena saya barengi dengan lihat youtube, buka facebook, ngecek email, bikin design corel. Seharusnya saya bisa menyelesaikannya kurang dari 15 menit. Ketiga, saya kesulitan buat fokus. Setiap pikiran saya dipaksa buat berpikir lebih kreatif, atau lebih sulit dari biasanya, saya cenderung menghindari proses itu dan langsung meng-switch apa yang sedang saya kerjakan dengan sesuatu yang menyenangkan, seperti nonton youtube. Keempat, di penghujung hari, waktu malam sebelum tidur, saya dipenuhi perasaan galau dan cemas yang berlebihan, karena ngerasa kurang produktif, ngerasa banyak tugas yang belum terselesaikan, ngerasa belum maksimal, dan berkomitmen buat lebih multitasking lagi di hari besoknya. Terus seperti itu sampai saya hampir runyam. 


Saya capek, dan saya mulai merenungi apa yang salah dengan kebiasaan saya. Mulailah proses mencari jawaban, sampai ke webnya fast company, dan melihat video ini :



Saya meyakini bahwa sumber stress yang sering saya rasakan akhir-akhir ini karena saya berusaha buat jadi seorang multitasker. Yuuup! Oke, perlu diingat sebelumnya bahwa memulai buat jadi seorang yang multitasker ini awalnya susah, saya berusaha, tapi setelah kecanduan dan berusaha ingin berhenti seperti sekarang ini, terasa lebih susah daripada memulainya. Aaaargh!

Di video itu, saya juga menggaris bawahi satu hal. Ternyata selain perlu jadi monotasker, ada hal yang lebih penting lagi. Yaitu berusaha untuk menghilangkan semua gangguan yang mungkin akan muncul di tengah jalan. Misalnya,waktu lagi ngetik postingan ini, saya menonaktifkan hape saya. Saya berusaha untuk tidak terpengaruh apapun. Dari pada saya mengerahkan energi untuk menghindari gangguan itu, kenapa tidak saya lenyapkan sekalian. Jadi mulai sekarang, saya akan berusaha untuk jadi monotasker. Akan sulit memulainya, tapi saya yakin ini akan berdampak jauh lebih baik dalam kehidupan saya, dari pada jungkir balik berjuang jadi multitasker. 

Good luck!



Thursday, October 22, 2015

How You See The World?

image from here
Kadang saya takjub sama orang yang sangat mampu berpikir positif di setiap suasana. Kadang saya juga takjub sama orang yang selalu melihat sisi negatif dari apapun. Please noted, apapun. Lihat tv, ada acara masak, eh bawang putihnya di geprek doang, nggak pake di ulek halus, uda ngomel panjang, ngatain kalo chefnya abal-abal lah, nggak bisa masak masakan Indonesia lah, hehe. Lihat seprei baru tanpa motif udah komentar macem-macem, nanti cepet kotor lah, gampang kelunturan, kelihatan kusut, dan sebagainya, padahal megang tekstur kainnya pun belum.

Lebih takjub lagi kalo liat ibu-ibu yang cuma diem aja, senyum tenang, padahal di sebelahnya ada beberapa orang yang sedang menggunjingkan sesuatu, menggunjingkan seseorang. Dia tidak tertarik untuk menimpali, atau ikut komentar. Memang sih, di dalam hati siapa yang tau. Tapi buat bertahan seperti itu sama sekali nggak mudaah. Apalagi kodrat cewek memang suka sekali mengomentari segala sesuatu. Saya sempat membayangkan bagaimana bentuk hatinya, mungkin bersih, bersih sekali, tidak ada bercak noda apapun.

Selama proses observasi dan menelaah beberapa minggu ini (ceilah), saya percaya bahwa cara berpikir kita, entah itu positif atau negatif, tergantung cara kita melihat kehidupan ini.

Kalau kamu melihat kehidupan ini kejam dan jahat, maka akan sulit sekali punya pikiran positif. Kalau melihat kehidupan ini sebagai ajang perlombaan, untuk cepat sampai di garis finish (yang sama sekali masih abu-abu, kecuali kematian), untuk bisa mengalahkan seseorang, untuk bisa terlihat lebih unggul daripada seseorang, maka kamu akan kerdil dengan pikirianmu itu, dan pikiran negatif akan sangat mudah mempengaruhimu. Sama juga dengan cara kita memandang Indonesia, apa negara ini sungguh begitu memalukan dan tidak ada harapan, maka setiap ada berita baik tentang negara ini, kita semakin mudah untuk menyangkalnya, mencari-cari kesalahannya.

Tapi kalau kita terbiasa melihat kehidupan itu sesuatu yang menyenangkan, berusaha berbagi buat sesama, berusaha melihat setiap celah harapan (seriously, harapan itu salah satu alasan yang membuat kita semangat menjalani hidup ini, mesikpun kebanyakan harapan palsu, but we still need it), berusaha buat selalu meredam ego diri, berusaha tidak menyalahkan orang lain, berusaha memaafkan orang lain dan diri sendiri, maka bukan hal yang mustahil kalau pikiran positif bisa lebih sering datang daripada pikiran negatif.

And i need to learn how to do it. Please send a good luck to me! :')

Saturday, October 17, 2015

LIFE UPDATE!

image from this

Halo, im come back! Akhir-akhir ini sibuuuk sekali. Sibuk dengan pikiran-pikiran yang datang silih berganti. And you know, ada banyak sekali orang yang ada di luar sana mulai bertanya-tanya apa yang sebenarnya saya lakukan di rumah. Its soo funny. Ada yang titip tanya lewat Mama, ada yang titip tanya lewat pembantu, ada yang tanya langsung tapi di awali pakai "Maaf lo ya kalo menyinggung, jadi kamu selama ini ngapain Han? Nggak cari kerja? Nggak sibuk-sibuk masukin lamaran?" Hehehe.

Anda bingung? Sama, saya juga. Sering banget tiba-tiba galau 'apa mending aku daftar kerja ya', tapi akhir-akhirnya selalu tetep keukeuh. Sebentar, give me a little more time. Saya mau mewujudkan apa yang selama ini saya cita-citakan. Saya sedang membangun sesuatu. Saya sedang mengokohkan kaki-kaki saya lebih kuat lagi. Saya sedang berusaha merealisasikan bayangan-bayangan masa depan yang dari dulu saya bayangkan. Stay at home. Being productive at home. Do something. Buat sesuatu yang bisa jadi passive income. Buat sesuatu yang selama ini saya yakini benar. 

Waduh, jangan dibayangin gampang. Susah sekali menghandle semuanya jadi selaras, seimbang, berjalan beriringan. Kepengen banget kok punya gaji utuh dari perusahaan mapan kaya kalian-kalian. Tapi iya, mungkin saya masih berjuang dengan idealisme saya sendiri. Tapi saya action, nggak cuma diam di angan-angan. Saya nggak takut apapun, karena rejeki pasti sudah ada yang ngatur dan gaji berapapun nggak akan pernah cukup buat menuhin life style. Jadi, saya berusaha cukup dengan apa yang saya dapat. Toh makan dan tinggal masih sama mama ini. 

Saya juga dikasih waktu sampai 1 tahun setelah wisuda untuk mencoba apapun yang ingin saya coba. Jadi, semua ini akan ada titik terangnya minimal bulan Mei 2016. Hahahaha. 

Setiap pagi saya berusaha tertib dengan to do list saya, melakukan A-Z, dari menulis, membuat perancanaan untuk bisnis, handle some blogs, ke ATM, ke toko kain, terus seperti itu. And i think i dont need holiday, because im so enjooooying to do that. Tapi tetep, kadang perasaan so exhausted dan pengen nangis sering datang. Tapi saya tidak memikirkan berlibur sebagai jalan keluarnya. Saya lebih memilih yoga, tidur seharian, liat youtube, baca buku, do nothing, atau call a frieend. Oh my God, let me tell you. Working from home is soo bored. Sepi meen. Nggak ada seseorang buat diajak bercanda except my mom. Itupun setelah ia pulang kerja di sore-malam hari. That's why saya punya ide buat dua project di blog ini. Yang pertama serial "working from home" dan "you need to call your friends". Semoga bisa terealisasi ya!

Lagi suka banget ngeliat video blognya Mimi Ikonn, Oh Mimi, how positive you are! I adore you and your husband too. Lagi sibuk maintenance blog cerita dari mama, dan berkembang bersamanya. Bener juga ya kalo ada yang bilang, just do it, gimana-gimananya akan jadi semakin jelas setelah kamu benar-benar menggelutinya. Wrapparcel is semi-off. Whaay? Because im still preparing for peak session in november-february. Caant waait! Lagi suka baca ulang buku-bukunya Wimar Witoelar, daaan lagi suka banget sama handlettering, check my Instagram for any updates.

Btw, im really enjoying writing this post. Ngalir gitu aja. Sebenernya masih ada tanggungan mau nulis acara reuni kemarin. Tapi gatau kenapa susah sekali. Mungkin lain waktu.

Keep being youu peoplee! 

Wednesday, September 9, 2015

DON'T SWEAT THE SMALL STUFF

image from here
Kemarin pagi, saya niatkan buat kirim pesanan yang sudah saya janjikan buat dikirim hari itu. Tapi waktu mau finishing, saya baru sadar kalo kain yang saya pakai kali ini jauh berbeda dengan kain-kain sebelumnya. Tampilan flower emojinya jadi sedikit berbeda. Padahal saya uda beli 'kain yang beda' itu dalam jumlah yang cukup banyak. Di moment-moment seperti itu, rasanya mental, emosi, tenaga dan pikiran saya sedang diuji. Pengen nangis. Akhirnya saya berusaha cooling down dengan tiduran sebentar daripada air mata mengalir. Lebay ya? Hmm coba rasain sendiri sensasinya. Keburu pesenan harus dikirim, ternyata kainnya salah, dan uda nggak ada budget buat beli kain lagi.

Sedihnya, di saat-saat kaya gitu, meskipun saya tau ini benar-benar kesalahan saya, tapi tetap ada keinginan buat nyalahin orang lain. Buat nggak ngakuin kalo cuma saya yang seharusnya bertanggung jawab. Waktu beli kain kemarin saya kan ditemani Mama, sebelum deal beli saya sempat tanya Mama, "Ma, bener yang ini kan?" trus Mama jawab "Emm, iya kayanya Han, alurnya, tebelnya sama kok". Akhirnya sambil tiduran saya SMS Mama, "Ma, kain kemarin ternyata salah Ma. Nggak bisa dipake. Padahal mau aku kirim bentar lagi." Setelah SMS terkirim, saya baru mikir banyak. Tujuan saya SMS ini apa? Biar Mama ngerasa bersalah juga? Biar rasa bersalah ini bukan cuma aku yang nanggung? Biar Mama bilang, "Maaf ya Han, seharusnya Mama tau kalo kain itu nggak sama", Atau apa?

Saya berusaha menyugesti diri saya sendiri. Han, ini cuma hal kecil. Kamu bisa aja nangis sekarang, atau kamu bangun pergi ke toko kain lagi, dan buat dari awal lagi. Masalah selesai. Kalo kamu cuma tiduran, berusaha nyalahin orang lain, masalahnya nggak akan selesai. Duit, modal, budget, apapun itu bisa dicari. Kamu uda komitmen dari awal buat bisnis, berarti untung, rugi, gagal, sukses, pun juga bakal setia datang silih berganti. Jangan ributin hal-hal kecil kaya gini. Jangan besar-besarin hal-hal yang kamu uda tau solusinya harus kaya gimana.

Thanks God, one lesson learned.


Friday, September 4, 2015

JOHN GREEN'S TED TALK AND CERITA DARI MAMA'S BLOG


Pagi ini, saya memutuskan untuk melihat video TED yang sudah saya tandai dengan"watch later" semalam. Judulnya "The Nerd's Guide to Learning Everything Online" yang dibawakan dengan sangat perfecto oleh penulis yang sedang naik daun, John Green. John Green, kaya pernah denger ya? Iya, John Green penulis serangkaian novel best seller mulai dari The Fault in Our Star, Looking for Alaska, sampai Paper Towns dan ada beberapa lagi novelnya, tapi saya lupa. 

Dalam speechnya kali ini, dia bercerita tentang analogi peta New York, masa-masa SMP-SMAnya, dan bagaimana dia bersyukur ada di dalam komunitas yang sangat mencintai belajar. Mereka saling mendukung tiap individu untuk terus berproses, mengerti konsep-konsep dasar, dan semua itu rata-rata mereka dapatkan dari luar kelas. Bukan melalui belajar di kelas yang menurut John Green terlalu kaku dan sangat konvensional. Dan dengan era mega internet sekarang ini, kita bisa belajar apa saja, kapan saja, dan dari mana saja. Tidak peduli kamu seorang profesor, murid sekolah dasar, atau mahasiswa yang sedang skripsian. Semuanya bisa saling belajar melalui postingan Tumblr, atau video Youtube yang maha dahsyat itu. And it so beautiful, when stranger ask something on comment about video, and someone who is stranger too answer that question. Kemauan belajar yang muncul dari hati karena kamu memang benar-benar ingin dan merasa butuh untuk mempelajarinya 1000x lebih indah daripada belajar karena tanggungan tugas, perintah guru, atau perintah atasan.  

Dan tiba-tiba saya menemukan alasan yang selama ini saya cari. Alasan kenapa saya dan Mama begitu bersemangat dan merasa ada kewajiban untuk segera memulai aksi nyata sebagai bentuk peduli kami. Mama dan saya sangat mengamini apa yang John Green sampaikan dalam speechnya, bahwa belajar itu bisa dari mana saja, tidak harus dari guru di kelas saat KBM, belajar bisa dari mana saja, dan cuma butuh dua hal, yaitu KEMAUAN DAN RASA KETERTARIKAN YANG BESAR. Mirip dan setipe waktu kita lagi jatuh cinta dengan seseorang, dan berusaha kepo apapun tentang orang itu. 

Kita melihat bahwa internet sangat-sangat bisa diandalkan untuk itu. Semua informasi bisa diakses disini. Siapapun bisa belajar apapun, kapanpun, dimanapun. Nah ini yang mulai jadi masalah dan menimbulkan kerisauan. Informasi yang beredar di internet ini lebih banyak positif atau negatifnya? Konten dalam bahasa Indonesia, atau web asli Indonesianya lebih banyak yang ke arah positif atau sebaliknya?



That's why we started this blog called, "CERITA DARI MAMA". Kami ingin sharing, belajar, dan ikut andil mewarnai informasi di internet dengan konten yang positif. Kami ingin memfasilitasi anak-anak yang mungkin mulai ada kemauan dan ketertarikan untuk belajar dengan informasi yang positif dan bermutu.

Jadi, kami memulai blog di wordpress (im sorry blogspot), dan akun official di LINE @. Oh? LINE @? Why? Iya, kita membuat akun di LINE @ karena kita melihat bahwa aplikasi ini bisa diakses dan bisa dishare dengan sangat mudah. Kita butuh platform yang sangat dekat dengan pembaca, yang tidak membutuhkan effort lebih untuk mengaksesnya. Dan semua solusi itu untuk sekarang ini kita lihat ada di LINE @. Selain itu, melihat potensi LINE @ yang cukup besar, tapi post-post yang berseliweran di sana lebih sering berisi quotes galau, masalah jodoh, dan prediksi golongan darah, sayang sekali kan? Halooo, mau jadi apa ya anak muda negara ini kalau cuma galau-jomblo-dan-jodoh, jadi bahasan yang terus menerus dibicarakan? Kita butuh postingan yang lebih bermutu dan bisa jadi bahan diskusi yang lebih cerdas. 

Doakan saya dan Mama bisa istiqomah ya. Kalau mau download, bisa search di add friend line : @dao2780o (pake @ ya). Atau scan QR Code di bawah ini dari LINE kamu ya! Thankyouu peoplee!



Wednesday, August 26, 2015

DO IT NOW

Beberapa hari yang lalu saya uda bikin list beberes studio kecil di balik kamar saya. Maklum, uda berantakan banget. Barang-barang keluar semua buat keperluan shoot video yang bentar lagi saya submit (Ih deg-degan euw, hehe). Dari hari Senin kemarin, saya cuma menatap list to do list buat beberes itu. Berharap akan datang mood yang tiba-tiba membuat saya ekstra bersemangat buat memilah, menata ulang, membersihkan karpet, kemudian menyapu lalu menyalakan lilin aromaterapi dan write down all my feelings. 

Tapi itu semua cuma rencana. Hari Senin berlalu, studio saya tetap seperti kapal pecah. Selasa datang, mood yang ditunggu tetep nggak mau datang. Selasa sore saya sempet browsing how to tidy up your room hahaha. But nothing, nggak ada impact apa-apa ke diri saya. Rabu tadi saya bangun dan merasa kalo mood itu belum juga datang. Serentetan proses menunggu mood buat beberes ini membuat saya down dan nggak bersemangat buat ngerjain yang lain-lainnya. Dari bangun pagi sampe menjelang jam 10 saya habiskan hanya duduk di depan laptop dan berpikir banyak. Sampai kapan saya mau dikendalikan mood seperti ini? Alasannya menunggu mood. Moodnya belum dateng-dateng. Sampai kapan mau bener-bener profesional? Kerjaan beres? Dan tidur bisa nyenyak karena nggak ada tanggungan beban? Kemudian saya berdiri dan mulai mengambil beberapa majalah di lantai. Satu-dua, saya tumpuk di tempatnya. And it happen. Saya sedang beberes studio. 40 menit setelah itu, studio saya kembali rapih dan bersih. 

Ternyata masalah beberes ini hampir mirip dengan olahraga. Biar nggak malas, jangan pernah nunda. Just do it NOW. Bangun pagi langsung ambil kaos kaki dan sepatu, keluar rumah, lari. Kalo ada yang berantakan, langsung aja ambil satu dua barang dan letakkan ditempat semula, dan selanjutnya akan tergerak sendiri untuk merapikan yang lainnya. Sekarang. Nggak nunda. Nggak nanti-nanti. Nggak nunggu mood. Hmm.

Thursday, August 6, 2015

RE PLANNING

image from here
There was a day when you can't to do anything as you wish. Ada banyak banget alasan yang tiba-tiba menghadang, kemudian berhasil menghalangi langkah kita. Tiba-tiba harus replanning dari awal. Bener-bener dari awal. Sampe kadang rasanya mau nangis.

Itu semua akan jadi indah selama kamu tetap percaya sama dirimu sendiri. Percaya kalo ini bukan angan-angan yang mustahil, dan kamu lagi berlari menuju "a best version of you in several next years".

Dan kamu sadar kalo kamu memang harus banyak belajar di masa-masa ini. Dengar apapun, lihat apapun, belajar cari peluang dari manapun.

Kadang kamu capek banget rasanya, kaya kamu nggak tau apa-apa. Kaya semua yang kamu yakinin selama ini bakal bisa jadi "modal" buat kamu memulai bisnis ini, tiba-tiba kaya nggak ada apa-apanya.

Tuhan selalu ngasih ujian buat naik level. Yang kasian itu orang yang masih stay di tempat, nggak naik level karana terlalu takut sama bentuk ujian-Nya.

Ditulis sambil dengerin soundcloud : Ost. Her - Some Other Place. 
Powered by Blogger.
Passion Journal © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.