Thursday, May 21, 2015

MY THIRD #MORNING PAGES

It's time for morning pages! Kenapa jadi ketagihan gini ya? Hehe. Halo, selamat pagi blog, selamat pagi diri saya sendiri. Sudah hari Kamis ya, nggak kerasa. Pagi ini saya bangun dari tidur kedua jam 07.30, tapi nggak langsung nulis ini. Saya sarapan buah dulu, ke kamar mandi dulu, sambil baca buku yang saya baca berulang-ulang, The Accidental Creative. Suatu saat, saya akan bercerita banyak tentang buku itu. Kemarin, setelah nulis morning pages di blog ini, tiba-tiba internet di rumah melemah, sampai akhirnya nggak bisa dibuat apa-apa lagi. Pesawat wi fi nya mungkin panas dan terlalu lelah, akhirnya saya matikan. Setelah hampir 2 jam, saya nyalakan lagi, eh ternyata nggak ada perubahan yang berarti, tetap lemot, bahkan nggak gerak. Oke, saya mulai frustasi. Nggak bisa buka LINE, nggak bisa upload instagram, nggak bisa lain-lainnya. Akhirnya setelah Mama pulang, saya telpon 147, dan dijawab ternyata sedang ada gangguan massal di seluruh daerah Jawa Timur, dan sekarang sedang maintenance. Fuih, setidaknya saya tau kalo masalahnya bukan dari pesawat di rumah saya. Sekitar setelah Maghrib, jam 18.00, wi fi nya kembali normal. Alhamdulillah. Tapi kejadian wi fi mati itu membuat saya berpikir banyak. Hari Senin kemarin, Mama membawa semua karpet yang ada di rumah ke tempat laundry. Semua karpet, tanpa terkecuali. Rasanya? Aneh. Jalan ditempat yang biasa ada karpetnya, sekarang nggak ada, kaki bersentuhan langsung sama lantai. Hal remeh temeh ya? Iya, memang. Tapi ternyata ketika ada sesuatu yang dihilangkan, kita baru sadar betapa pentingnya keberadaan benda itu dalam hidup kita. Oke, itu cuma karpet ya, yang sampai hari ini belum datang juga dari laundry, gimana kalo internet? Wah, ini bisa bikin orang heboh. Gimana nggak, hampir semua pekerjaan kita tergantung sama internet. Kita berkomunikasi pake jaringan itu. Internet melemah aja sudah cemas, apalagi nggak jalan sama sekali. Kadang saya capek sama situasi kita layaknya diperbudak sama internet. Tapi mau apa lagi, tuntutan dunia sudah berkembang sedemikian pesatnya, dan internet punya solusi untuk hal itu, meniadakan jarak. Kemarin, dalam keadaan tanpa internet, akhirnya saya bisa melakukan hal-hal lain yang selama ini selalu saya tunda-tunda. Hal sepele sih, seperti menempel flags di halaman-halaman penting buku yang sedang saya baca, lalu main game berdua sama Bika sambil ketawa-ketawa. Kayanya saya perlu mematikan koneksi internet secara berkala deh, agar saya lebih peka sekitar, lebih punya waktu untuk melakukan hal-hal sepele yang membuat saya bahagia. How about you?

Wednesday, May 20, 2015

MY SECOND #MORNING PAGES

Hai you, hai myself, hai everybody. Sudah siang ya, saya bangun kesiangan hari ini. Mungkin efek dari semalem kontrol kawat gigi ke dokter, dan uda lama juga nggak ngerasain kawatnya ditarik-tarik lagi, jadi gigi saya rada sakit-sakit gimana gitu. But all is well. Atau saya bangun kesiangan mungkin karena efek udara dingin? Yang menusuk-nusuk sampai ke tulang? (haha, mulai deh lebaynya). Btw, morning pages ini harus dilakukan rutin selama 30 hari. And i think i can do that. Trust me. I promise you. Nulis morning pages hari ini bener-bener langsung habis bangun lo, kemajuan ya. Sambil sarapan pepaya dan dengerin lagunya Yuna Zarai, my favorite Malaysian singer. Oh i love her so much! 
Oh iya, semalem kelas kuliah online saya di Coursera dimulai. I smell happiness, karena belajar perkembangan anak dan remaja. Saya juga baru sadar semalem waktu nyoba lihat salah satu video, ternyata selama ini saya belajar psikologi ada juga yang nyantol ke otak, dan saya seneng banget belajar perkembangan manusia, honestly. Kenapa ya? Mungkin bawaan orang tua saya yang dua-duanya berkecimpung di dunia pendidikan? Nggak tau juga. But im happy to realize that im happy. Selama ini memang track record kelas saya di Coursera nggak pernah ada yang finish sampai week terakhir. Rata-rata kalau panjang kelasnya 6 weeks, saya bertahan sampai week 4, dan menyerah. Setelah saya evaluasi, mungkin karena waktu itu saya harus ke perpustaan agar bisa mengakses video, task dan quiznya, saya butuh koneksi internet yang stabil, dan nggak mungkin melakukannya di dalam kos-kosan dengan bantuan modem atau tathering dari hape. Oh, poor me. Dan sekarang, saya di rumah dengan koneksi wi fi yang lancar jaya, jadi alasan apalagi yang bisa saya pakai untuk berhenti kuliah di tengah-tengah jalan? Kayanya nggak ada. Saya optimis kelas ini bisa saya selesaikan sampai akhir. Sebenarnya Coursera menawarkan sertifikat resmi dari universitas yang mengeluarkan session kelas itu. Lumayan kan sebagai bukti achievement pribadi, tapi itu dia, ada sejumlah uang yang harus dibayarkan, dan itu rasanya nggak mungkin bisa saya penuhi dalam keadaan merintis bisnis seperti ini. Setiap hari, ada aja budget yang harus dikeluarkan, sedangkan suntikan modal agak sedikit terhambat. Nggak papa deh tanpa sertifikat resmi, yang jelas saya harus berhasil menyelesaikan kelas ini dengan nilai yang baik. Dan itu akan jadi penghargaan terbesar buat diri saya sendiri. Saya sadar, di masa-masa peralihan seperti ini, dan saya punya komitmen untuk kerja dari rumah, hal yang paling penting adalah manajemen waktu. Kalo saya nggak tertib urusan itu, semuanya nggak akan maksimal. Jadi saya memutuskan untuk mengikuti kelas online ini waktu malam hari, setelah makan malam. Pagi, siang dan sore, waktu saya tetap untuk my baby, Wrapparcel. She is growing up now. Pray for her. Love you, bye!

Tuesday, May 19, 2015

MY FIRST #MORNING PAGE

Halo blog, halo everybody. Kemarin saya memberi tanda bookmark ke salah satu tulisan di Medium, dan barusan saat berdiam lama di kamar mandi, saya membaca tulisan itu lagi, dengan khusyu, fokus, dan pelan-pelan. Lalu saya tergerak menyalakan laptop, membuka youtube dan mendengarkan lagu Of Monster and Men, dan menulis di blog ini. Tulisan saya ini adalah morning pages pertama yang saya publikasikan. Setelah saya ingat-ingat, sebenarnya saya sudah beberapa kali menulis di pagi-pagi sebelum melakukan apa-apa. Waktu SMP-SMA apalagi. Morning pages saya biasanya berakhir di buku-buku doodling atau semacam buku harian semi agenda to do list, yang selalu menemani saya di masa-masa itu. Berdasarkan tulisan yang dibuat Julia Cameron, morning pages ini sepanjang 3 halaman dan ditulis pertama kali di pagi hari setelah bangun tidur, sebelum melakukan aktivitas pagi lainnya. Hmm, ini lumayan sulit, karena saat bangun pertama, setelah sholat Shubuh, saya akan sangat sulit tidak tergoda untuk tidur lagi. Kemudian bangun jam 06.00 atau 06.30 atau malah lebih siang dari itu, Maklum, di moment pasca wisuda S1 dan berusaha komitmen untuk bisa menghasilkan uang dari rumah, saya agak kesulitan dengan rutinitas bangun pagi, atau tidak tidur lagi setelah sholat Shubuh. Poor me. Seharusnya saya bisa memanfaatkan waktu pasca Shubuh itu dengan banyak aktivitas yang menyenangkan dan membangun mood. Seperti menulis morning pages, atau menyiapkan segelas jeruk nipis hangat dan buah-buahan untuk sarapan Mama. Oh iya, aturan menulis morning pages ini adalah menulis terus tanpa berpikir terlalu dalam, menulis apapun yang melintas di kepala. Ok i will try. Saya terobsesi untuk hidup sehat, dan sejauh ini saya percaya makanan, minuman, dan cara kita mengkonsumsi itu semua adalah hal-hal yang perlu diperhatikan lebih serius lagi agar tubuh kita bisa selalu fit. Sekitar dua tahun yang lalu, saya berkenalan dengan istilah food combining dari twitter suhu Erikar Lebang. Dan sampai sekarang, meskipun tertatih, meskipun banyak halangan, saya tetap meyakini food combining adalah cara paling masuk akal dan berdampak baik untuk tubuh saya. Setelah sakit tipes hampir sebulan kemarin, saya komitmen untuk menjalankan food combining dengan lebih baik lagi. Dengan lebih memperhatikan detail-detail kecil di dalamnya. Saya yang sekarang menetap di rumah, tinggal dengan Mama, adik perempuan (yang kebetulan lagi libur panjang pasca UAN SMP), dan pembantu merasa sangat percaya diri bisa melakukan food combining ini dengan baik. Makan ada yang masakin, makan ada yang nemenin dan nggak sendirian. Ternyata ini nggak semudah yang saya kira. Mengajak orang lain untuk hidup sehat dan memperhatikan detail dari apapun yang masuk ke mulutnya itu susah. Mama saya misalnya, sudah meyakini kalau sarapan buah itu enak, nggak bikin ngantuk, badan lebih segar, tapi kalau tiba-tiba stock buah di rumah sedikit, ia akan meminta pembantu saya untuk bikin nasi goreng dan merebus telur. Karena ia yakin nggak mungkin berangkat kerja tanpa tenaga, mau tenaga dari buah, eh buahnya sedikit, yaudah nasi aja, dari pada kenapa-kenapa di tempat kerja. Contoh soal lagi tadi pagi, stock buah di rumah tinggal jeruk dan belimbing, saat saya bangun dan Mama siap-siap mau pergi, saya kaget karena di sebelah piring belimbing ada dua onde-onde. Oke saya suka banget sama jajanan pasar yang namanya onde-onde, tapi apa komitmen yang saya buat kemarin lusa sama Mama, kalo kita bakal lebih kenceng melakukan food combining itu kurang jelas? Apa Mama nggak ngerti kalo onde-onde itu bukan termasuk buah-buahan?
Saya terlalu berlebihan ya? Tapi saya sedih banget. Mama termasuk orang yang diperbudak oleh bermacam-macam obat. dari obat darah tinggi yang harus diminum tiap hari, obat antasida semacam Mylanta, obat alergi semacam Citirizen, obat flu semacam Nasafed Plus, obat hormonal, obat pusing semacam Neuralgin, dan banyak lagi. Kemarin lusa kita komitmen kalo kita nggak bisa diperbudak sama obat terus-terusan. Hampir setiap dua hari sekali saya pergi ke apotek. Ada aja obat yang harus dibeli. Saya sedih. Saya sedih karena ternyata komitmen hidup sehat itu susah, dan mengajak orang untuk benar-benar komitmen hidup sehat itu benar-benar susah. Oke, kayanya itu aja morning pages pagi ini. Semoga saya benar-benar bisa komitmen untuk menulis ini dan memposting di blog. I will try. 

Friday, April 24, 2015

WHY I STILL AND ALWAYS STILL NEED WRITE

Selama masa peralihan dari lulus kuliah-ke dunia yang sebenarnya ini penuh dilema. Saya nggak pernah punya cita-cita buat kerja di kantor, pergi dari rumah jam 7 pagi, pulang menjelang magrib. Hampir dua bulan ini saya produktif duduk di rumah, di depan laptop, dan komputer rumah. Mencari, membaca, mencoba sesuatu yang selama ini selalu menjadi angan-angan saya. Honestly im happy! Very happy! Tapi terkadang ada banyak orang yang masih dengan anggapan kalo kerja itu ya harus keluar dari rumah, dari pagi, terus pulang sore hari. Saya akui, saya sedang bergejolak dengan semua itu. Tiba-tiba saya bangun pagi dengan semangat berlebih, kadang bangun tanpa semangat sama sekali. Ada banyak sekali pelajaran yang saya temui ketika saya mencoba untuk berdialog dengan diri saya sendiri, kemudian berdamai. Membiarkan dan memaafkan semua kesalahan yang saya buat, dan tetap lanjut agar semua mimpi saya bisa terealisasi. Nah dalam proses itu, saya butuh wadah untuk mengeluarkan semua yang saya pikirkan, saya butuh menulis. Saya butuh tulisan yang nanti akan menjadi harta karun tak ternilai bagi diri saya di masa yang akan datang. Saya butuh bukti outentik bahwa saya akan terus dan terus berproses, dan itu hal yang normal dalam kehidupan ini. Jadi ijinkan saya untuk terus belajar memahami diri saya lewat blog ini. Syukur kalo ada yang merasa terbantu atau tercerahan dengan tulisan saya. Tapi tujuan terbesar saya adalah untuk saya sendiri, saya butuh menulis untuk membekukan waktu. Semoga bisa istiqomah, aaamiiin. 

< > Home
Powered by Blogger.
Passion Journal © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.