Sunday, May 1, 2022

Mixed Feelings That Always Come Consistent



Sejauh yang aku ingat, sepertinya aku selalu konsisten punya mixed feelings menghadapi malam takbiran. 

Antara sedih, menyesal, marah sama diri sendiri, seneng, excited, berasa dikasih kesempatan baru, kangen, pengen nangis karena kangen, penuh syukur, ada takut dan ada cemasnya juga. 

Pokoknya ini malam yang sebenernya agak aneh, karena di satu waktu ngerasa puluhan emosi. Dan setiap tahun selalu begitu.

Jadi, malem ini, mumpung ini super pengalaman baru seumur hidupku, aku mencoba mengkristalkannya dalam bentuk tulisan. 

Seperti biasa, dengan tujuan membuat Hana di lima atau 10 tahun lagi, bisa baca dan nangkep apa yang sebenernya aku rasain malem ini. Membuat analisa baru, membandingkan, atau sekedar merasa sudah "tumbuh" adalah tujuanku menulis impromptu seperti malem ini. 

Sambil ditemenin kopi nggak panas, dan nggak dingin - plus sayup-sayup takbir menggema dari musholla sebelah rumah, dan lagu Tentang Rumahku - Dialog Dini Hari aku dengerin dari headset. Diputar berkali-kali. Lagu ini selalu berhasil bawa banyak memori. Sudut-sudut rumah Umik, kebiasaan waktu kecil, dan perasaan yang tiba-tiba hangat. 


Dear Hana Chan, 

Kamu tau, setiap keluarga punya kebiasaan masing-masing menghadapi Hari Raya Idul Fitri.

Mulai dari kebiasaan Mama, kebiasaan Almh. Umik (nenekku), dan sekarang aku menghadapi kebiasaan baru, kebiasaan di rumah Mama mertua di Malang.

Ini pertama kalinya aku merayakan Idul Fitri nggak bareng Mama. 

Ini pertama kalinya aku merayakan Idul Fitri di Malang.

Ini pertama kalinya aku tanya detail, seperti apa kebiasaan besok hari.

"Ma, setelah sholat Id ntar ngapain dulu?"

"Ada tamu jam berapa kira-kira?"

"Trus nanti akan ke rumah siapa dulu?"

"Kue yang disiapin nanti apa?"

"Hana bantu apa Ma?"

"Apa yang belum atau kelupaan belum dibeli Ma?"


Sebelumnya?

Kebiasaan Almh. Umik dan Mama, aku uda hapal di luar kepala. Mau pake wadah apa buat lontong, mau keluarin kue kering berapa toples, ntar tamu dateng siapa aja, disuguhin apa aja, sampe susunan meja makan dan bunga segar yang biasa dibeli sebelum hari raya.

Lucu ya?

Dan sekarang sambil nulis uda mulai nangis karena kangen dan memori tentang Almh. Umik di malem takbiran dan hari raya muncul satu-satu. Al-Fatihah buat Umik tersayang, manisku, cintaku, sayangku. Semoga selalu lapang, terang kuburnya, dan diterima semua amal ibadah Umik, amiiin. 


(nafas dulu, nggak kuat kangen)

Malem yang super mixed feelings. Sungguh ajaib ya Allah. Engkau bisa menghadirkan puluhan emosi di waktu bersamaan. 

Subhanallaah. Allahuakbar.


Tapi dipikir-pikir, 

Manusia akan selalu dituntut buat adaptasi di lingkungan baru kan ya? Di tahun awal-awal menikah, sepertinya kata adaptasi adalah "highlight" semua orang, termasuk aku.


Loncat dikit nggak papa ya, 

Tapi tiba-tiba aku inget banget doaku beberapa tahun yang lalu, pengen dapet mertua yang bisa aku layanin, yang bisa aku ajak ngobrol panjang. Dan subhanallah, Allah kabulin doaku. 

Rasanya, aku kangen banget melayani Almh. Umik yang uda meninggal sekitar 7-8 tahun lalu. Dan sekarang, Allah kasih aku second chance, dengan subyek yang beda, Mama dan Abi. 

Subhanalllah, aku juga baru sadar beberapa hari lalu waktu bukber sama temen-temen S1. Mereka tau aku se-clueless apa setelah Almh. Umik meninggal.

Tiba-tiba meluncur dari mulutku, "Aku bersyukur banget, Allah kaya kasih aku kesempatan kedua lewat Mama mertuaku".. Dan aku diem dulu habis ngomong itu, kaget sendiri. 


Balik ke mixed feelings yang aku rasain, 

Aku sedih banget karena kayanya aku tuh ngerasa ditemenin sama bulan Ramadhan. Aku akhir-akhir ini sering banget ngerasa sendiri, kesepian, dan waktu dateng bulan Ramadhan tuh semua tiba-tiba membaik. Ngerasa punya semangat, ngerasa "oh orang-orang juga melakukan ibadah yang sama kaya aku"... Ngerasa nggak sendiri. Ngerasa ada yang ditunggu (waktu berbuka), dan nggak ada yang bisa mengalahkan sensasi teh hangat melewati tenggorokan waktu buka puasa. 


Dan Ramadhannya uda pergi hari ini. Rasanya kaya ngelepas sahabat jauh pulang ke rumahnya. Rasanya nggak siap kesepian lagi. 


Aku juga ngerasa menyesal, masih sering kalah sama hawa nafsu dan perasaan kantuk/capek. Ngerasa marah sama diri sendiri, karena nggak bisa penuhin banyak target. 

Target ngaji sampe juz berapa

Target olahraga

Target pola makan

Target ibadah-ibadah sunnah lainnya.


Rasanya, ya Allaah andai ya kemarin itu aku.. 

Andai aku bisa gini.. 

Andai aku nggak sakit punggung

Andai aku mau ngeluangin waktu konsisten tiap habis subuh

Andai aku bener-bener perhatiin olahraga jadi energiku nggak low banget

Daan andai-andai lainnya. 


Tapi ya nggak papa Han, kamu masih manusia kan, bukan robot? Menyadari apa yang terjadi di dirimu, emosimu, apa yang kamu pikirkan, pola-pola apa yang terjadi, itu adalah goals sebenernya. 


Target-target pencapaian, harus A-B-C, boleh banget ditentuin di awal. Tapi kalaupun nggak tercapai, kamu juga harus tau kalo itu sama sekali nggak papa. Ada banyak hal yang nggak bisa kamu kontrol untuk bener-bener memastikan target itu tercapai 100%. 

Untuk reminder, ada banyak yang sebenernya nggak bisa kamu kontrol, contohnya:

- Your period time

- Waktu sahur kebangun atau nggak, meskipun uda pake alarm banyaak, tapi kadang yang bisa bangunin cuma adzan Shubuh. 

- Load kerjaan yang tiba-tiba banyak, tiba-tiba low. Bikin agak susah ngatur ritmenya

- Tiba-tiba syaraf kecepitmu kambuh lagi, 

- Kebiasaan di rumah Malang seperti apa, dst. 


It's oke. Makasih Hana uda mau terus berusaha memaksimalkan waktu di bulan Ramadhan. Kita coba lagi tahun depan ya. 


Di akhir tulisan ini, Aku pengen spesifik menulis doa yang akan aku rapal berkali-kali malem ini. 

Ya Allah, Ya Rahmaaan, Ya Rahiiim

Ya Allah, izinkan aku ketemu bulan Ramadhan tahun depan.

Ya Allah, terimakasih buat kesempatan merasakan Ramadhan tahun ini yang begitu berwarna.

Ya Allah, terimakasih buat nikmat dan perasaan "ditemani" selama Ramadhan ini.

Terimakasih buat perasaan hangat selama satu bulan full. 

Terimakasih buat semuanya. 



Selamat jalan Ramadhan, aku tunggu tahun depan ya. 


Friday, March 18, 2022

Garden, Not Machine




 


I think I need to look at my daily life with a different approach.

WFH seems to look easy, I've lost 3 hours dealing with traffic jams. But, after two years, I knew something wasn't working.

I need variety. I need something to remember, that today is a new day. A different day than yesterday or tomorrow. I realized, since two years ago, I tend to see myself as a machine. Big machine. Keep working from one to-do list to another. Pushing myself with early deadlines. Purchase candles and aromatherapy oils or coffee from recipe to recipe.

I always crave new things. Something that gets me excited again, something that gets my adrenaline pumping, something that I can remember, that today is a new day.

I try to see myself as a garden from now on. What do I need as a big garden today? Is today the right time to harvest? Or do I need more water today? Or do I just want to relax and enjoy the breeze?

So, today I chose to work from a new coffee shop. I enjoyed the soy latte and tuna pastry for breakfast. And I feel much better. Just a little change and a big difference happened.

Friday, February 11, 2022

Yes or No?

 Hi there, 


Sorry for the extra-long despair. 

I miss you, white page on my blog. I really miss you. There's a lot happened in my life. Too much, and I found it difficult to start telling you what happened. 

But today, I need an extra shot. 


I need to boost my mood and figure out what happens to me. This week goes slowly and harder than before. I got my period, so Monday, I cancel almost all clients on that day. I thought Tuesday until Friday will go smoothly. But NOT. 

I need an extra shot of caffeine until I make a poem for tea just to say thank you. 

"Thank you tea for coming into my life, I need to explore you deeper until I can't miss caffeine harder"


So let's start with play Yes or No

Hai Hana, how are you?

Are you tired? Yes

Are you overwhelmed? Oh yes

Are you don't know what happened lately? Yes

Are you feeling bored and want something sparkle new? Yes

Are you feeling embarrassed when looking at yourself in the mirror? Yes

There is something that passed to your mind and you struggling to catch up? Yes, a lot.

Are you afraid? Yes, too much. 

Are you feeling lonely? Yes. 

Are you don't know what to do? Yes



Oke, I think so much going on in your life right now. Hang in there Han

Please take care of yourself as a little baby. Slowly.




Monday, August 16, 2021

Coffee and Me

Hana beserta love and hate nya sama kopi. Complicated relationship. 

Proses trial error berkali-kali, pause jeda lama kemudian kangen, dan perjalanan mengalahkan hawa nafsu serta merasa cukup. 


Kompleks. 

Hubunganku sama kopi, nggak akan pernah sederhana. Seperti minuman dengan tenggorokan. Ada ekspektasi besar dari dalam diriku akan kopi. Ada beban besar yang ia tanggung setiap kali aku seduh. 

Browsing bermenit-menit via aplikasi, mencoba peruntungan kemungkinan diskon dan harga jadi fantastis. Kemudian menyerah, atau menang? Dengan menutup aplikasi, dan jalan ke dapur mau bikin kopi sendiri. 

Ada berjenis-jenis kopi di rumah. Mulai dari kopi robusta, nescafe classic, kopi sachet, kopi rempah khas arab, kopi dari berbagai daerah di Indonesia. Lengkap, nggak kurang. 

Bahan pemanisnya juga ada, mulai dari gula aren semut, gula merah, gula putih, gula tanpa kalori, sampe krimer. You name it. 

Kamu cukup Han, apa yang kamu punya sekarang lebih dari cukup. 


Energi dan semangat membara yang kamu harapkan muncul, sesekali juga jangan dibebankan 100% ke kopi seduhanmu. Ada banyak faktor lain, ada proses tidur cukup, olahraga, kena sinar matahari, makan makanan bergizi seimbang, proses metabolisme lancar, emosi terkelola dengan baik.

Kemudian aku bertanya, dimana letak kopi? Di list pertama. Di list keinginan, tapi bukan kebutuhan utama. 

It's good to have a wonderful cup of coffee, but it's great to build other habits too. 


Belum lagi berjam-jam yang aku habiskan untuk melihat alat-alat canggih tapi rumahan untuk membuat kopi. Update kapan barang itu diskon. Atau berjam-jam aku browsing dan bandingin resep bikin kopi mirip kopi kenangan. Trus (terburu-buru) mau coba ikutin resepnya, yang kadang mirip sampe mau nangis, kadang nggak. 

Kupikir-pikir, nikmatnya kopi kenangan tuh ada di proses jalan turun lift, ngobrol sama Putri sampe outletnya, liat orang-orang sibuk ama HP nya sambil antre, liat mas-masnya bikin kopi, kemudian kopi kita jadi, dan seruputan pertama. Nah itu puncak nikmatnya. 

After that? Kalau grafik nih, mulai menurun nikmatnya sepertinya. 

(OMG, panjang juga tulisan saporadis dan impromptu tentang kopi ini)

But after that, please berusahalah untuk mencintai kopi sewajarnya. Nggak perlu kasih ekspektasi berlebihan, karena nanti mulai muncul benci, yang bersumber dari ekspektasimu itu. 

Selamat Senin!💕


< > Home
Powered by Blogger.
Passion Journal © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.