Monday, May 30, 2016

Do You Believe It, Han?

Saat menulis ini pun saya sedang mereka-reka, apa reaksi saya saat membaca tulisan ini setelah semua ujian ini terlewati.
Tulisan di atas adalah sepenggal kalimat yang saya tulis di blog ini akhir Februari kemarin. Empat bulan yang lalu! Saat saya belum daftar UI buat S2, saat saya masih menata hati dan pikiran setenang-tenangnya, saat ada banyak hal krusial yang harus saya putuskan. 

Sekarang, di tulisan ini, saya mau flashback ke belakang, mungkin tulisan ini juga akan memberi semangat buat saya di saat-saat krusial berjuang menyelesaikan S2 nanti.

Sejak awal masuk S1 kemarin, saya sebenarnya merasa jurusan psikologi adalah kuliah yang akan saya ikuti hanya selama 2 semester kemudian akan saya tinggal karena mimpi untuk kuliah di jurusan-jurusan desain masih sangat besar. Harapan buat belajar desain (apapun itu, dari interior-produk-grafis), masih sangat sulit untuk dipadamkan. Saya masih meletup-letup saat itu. Ambisi saya masih sangat besar, dan saya tidak punya kekuatan untuk memadamkannya.

Kuliah psikologi saya jalani tanpa ekspektasi yang besar. Yang penting saya kuliah, kalau toh saya tidak lolos desain lagi tahun depan, saya belajar tentang diri saya sendiri. Pikiran itulah yang menguatkan saya waktu itu.

Waktu berjalan, dan saya berbalik 180 derajat. Saya suka sekali belajar psikologi. Saya selalu excited saat kuliah-kuliah dimulai, saya belajar filsafat lebih jauh, mulai mengenal konsep kepribadian, saya membaca biografi-biografi tokoh-tokohnya dan belajar bagaimana dia bisa memiliki pikiran seperti itu, saya mulai memahami konsep persepsi, id, ego, super ego. Saya mulai sedikit demi sedikit bisa melihat segala sesuatu dari berbagai sisi. Saya mulai bisa menempatkan diri dalam lingkungan, tidak terlalu gagap seperti sebelumnya.

Saat ITB buka pendaftaran untuk USM pertama, saya mulai galau. Saya merasa ada hal yang teramat besar yang harus saya korbankan, kalau saya mengejar kembali mimpi saya itu. Dari situ, sebelum memutuskan daftar lagi atau tidak, saya belajar satu hal yang akan saya ingat sampai sekarang. Belajar ikhlas, dan belajar memahami bahwa ada mimpi atau ambisi yang harus ditidurkan terlebih dahulu. Meskipun kita punya kemauan yang besar untuk hal itu, tapi ada faktor lain, faktor timing yang pas. Saat itu bukan waktu yang terbaik buat mulai semua lagi dari awal, buat mengejar ambisi masa kecil saya. Akan ada banyak sekali yang harus dikecewakan, terutama orang tua yang sangat mendukung saya belajar psikologi. Akhirnya saya memutuskan, saya harus menyelesaikan S1 ini. Saya harus bertanggungjawab sama apa yang sudah saya putuskan sebelumnya.

Masuk semester 3, mulai kenal penjurusan (meskipun belum dijuruskan). Oh, ada psikologi klinis, ada psikologi industri organisasi, ada psikologi perkembangan, psikologi sosial, dan yang lainnya. Saya jatuh cinta sama psikologi industri organisasi. Jatuh cinta sejatuh-jatuhnya, sampai detik ini. Mulai saat itu, saya yakin, saya mau jadi psikolog industri organisasi, meskipun saya belum punya gambaran apa yang sebenarnya bisa saya lakukan saat menjadi psikolog itu.

S1 hampir berakhir, saya semakin yakin, saya harus belajar lebih serius lagi tentang ini, suatu saat nanti. Saya tidak punya target harus ambil profesi berapa tahun setelah kuliah, atau harus di universitas apa. Saya cuma punya satu keyakinan, sampai kapanpun saya akan merasa excited membahas ilmu itu, dan saya mau hidup membantu orang banyak dengan ilmu itu. Just it. Selebihnya saya pasrah.

Pasrah karena semakin saya memastikan suatu yang belum pasti, rasanya akan semakin tidak menentu. Saya percaya sama rencana Allah. Selain itu, saya merasa sangat tidak enak membebani orang tua saya sekali lagi, dengan biaya kuliah dan hidup yang tidak murah. Apalagi adik-adik saya masih harus kuliah. Saya cuma punya kemauan belajar, dan keyakinan kalau suatu saat saya bisa jadi psikolog.

Setelah wisuda, saya mulai membuat list jadwal dan syarat-syarat pendaftaran untuk magister profesi psikologi. Seperti yang saya bilang tadi, saya tidak ada target harus diterima di universitas tertentu, jadi saya berangkat dengan niatan, akan saya coba semuanya! Hehe.

Rencana Allah berkata lain, saya sakit tipes hampir 2 bulan lamanya setelah wisuda. Setelah saya agak mendingan dan mau daftar, ternyata semua proses seleksinya sudah selesai. Magister profesi di setiap universitas negri di Indonesia memulai proses belajar satu angkatan di semester ganjil (tidak ada angkatan yang memulai di semester genap, *setau saya).

Ya sudah, Saya yakin suatu saat masih ada kesempatan. Mama pun menguatkan dengan kata-kata yang sangat menentramkan hati setelah proses wisuda kemarin, 
"Han, Mama rasa kamu punya waktu satu tahun buat mencoba apapun yang akan kamu coba, jangan ada target apa-apa. Cobain aja semua. Kamu mau bisnis, mau coba daftar S2, mau daftar kerja, mau traveling, terserah kamu. Mama nggak ada tuntutan apa-apa." 
Saya menangis saat Mama mengatakan kata-kata itu. Saya merasa terlalu keras dengan tubuh saya sendiri, dan peringatan dari Allah berupa sakit itu membuat saya berfikir banyak, berfikir bahwa saya harus bisa menaklukkan ambisi-ambisi yang meletup-letup dan semakin tidak terkendali ini.

Di awal tahun 2016, saya merasa waktu setahun yang diberikan Mama, akan tidak ada titik terangnya kalau saya tidak punya planning yang jelas. Saya akan menyesal kemudian jika saya tidak mempersiapkan semuanya secara detail dari sekarang. Di awal Januari itu, saya membuka lagi list tanggal dan persyaratan S2 yang sudah saya tulis sebelumnya, saya niatkan buat mulai mempersiapkan diri belajar materi tes S2. Karena kamu tau, sungguh banyak sekali cerita di luar sana kalau mau profesi psikologi itu susah sekali tembusnya. Saya tidak mau hanya sekedar mencoba peruntungan dengan iseng ikut tes tanpa persiapan.

Di list saya, yang pertama buka pendaftaran adalah UI. Ada dua rangkaian tes yang harus saya lalui untuk jadi mahasiswa magister profesi psikologi di sana. Tes SIMAK UI (TPA dan Bahasa Inggris), kemudian kalau lolos tahap itu, tes tahap dua (khusus mapro psikologi). Yaitu tes psikotes, FGD, dan wawancara. Setelah UI, inceran saya adalah UNAIR. Saat itu pendaftaran UGM dan UNPAD masih agak lama, jadi saya fokus di dua itu. Tes UNAIR tepat sehari setelah tes UI. Saya yang gila ini, merasa sanggup buat daftar dua-duanya, dan langsung terbang sehabis tes UI ke Surabaya. Tapi setelah saya daftar UI dan cek kembali web UNAIR, ternyata tesnya dimajukan di hari yang sama seperti SIMAK UI, 10 April 2016. Saya mulai membaca tanda-tanda alam. Oh, sepertinya saya ditakdirkan buat coba UI terlebih dahulu.

Saya belajar hampir dua bulan pakai buku catatan grammar dari SMA, dan beli voucher di Zenius buat belajar TPA dan soal-soal bahasa Inggrisnya. Oh, ada yang belum tau Zenius? You have check it. Its amazing dan really helpful buat tipe orang yang belajarnya seperti saya. Di proses itu, sempet ada beberapa masalah yang bikin down dan sampai berhari-hari nangis nggak berhenti, but im sorry blog, i cant tell you that problem. Sooo sad.

Saya juga kembali terbebani dengan pikiran, Ya Allah dapet dari mana duit buat semesterannya? Ya Allah masa iya aku ninggal Mama lagi setelah 10 tahun lebih hidup jauh? Nanti Mama gimana? 

Tapi saya masih menyimpan dengan rapih semua catatan dan seruan-seruan untuk berhijrah. Buat keluar dari zona nyaman. Mulai dari peribahasa arab, sampai catetan saya waktu baca buku "Who Moved My Cheese?"

Saya terus berdiskusi dengan diri saya sendiri, Ok Han, you need this. Kamu sepertinya bener-bener punya kemauan besar untuk belajar ilmu ini, dan ketika ada kemauan itu, maka belajar adalah sebuah kewajiban yang harus kamu lakukan. You will grow and you must grow. Pikiranmu, cara menganalisamu, sudut pandangmu akan lebih luas lagi. Dan untuk semua hal yang excited dalam hidupmu itu, kamu harus berkorban satu hal, segera keluar dari zona nyamanmu. 

Saya berangkat tes dengan air mata yang harus ditahan sekuat tenaga biar nggak jatuh. Saya merasa mendapat pressure yang sebegitu besarnya, dari keluarga dan diri saya sendiri. Saya sadar tembus mapro psikologi, apalagi UI, itu ibarat mimpi yang ketinggian. Apalagi waktu itu saya harus ke Jakarta sama Baba, meninggalkan Mama seorang diri di rumah, tanpa pembantu, dalam waktu hampir 10 hari. Waktu yang lama karena setelah wisuda saya tidak pernah ke luar kota lebih dari 3 hari. Mengapa 10 hari? Karena setelah SIMAK UI, saya harus ke Jogja buat tes prasyarat UGM, tes Paps dan Accept. 

Ya, saya sudah membuat perkiraan dari plan A sampai E (seriously, hahaha). Kalau nggak keterima UI gel 1 ini, coba gel 2. Trus coba UNAIR gel 2, terus UGM, terus UNPAD. Dan saya sudah punya timeline yang rapih untuk itu.

Seminggu sepulang dari perjalanan 10 hari, keluar pengumuman yang lolos tahap 1 buat ikut tes lagi di tahap 2 di web psikologi UI. Alhamdulillaaah! Pengumuman itu keluar 2 hari lebih cepat dari seharusnya, sehabis sholat shubuh, saya merasa harus cek nih, mungkin ada keajaiban. Saat membaca listnya, rasanya kaki mau lepas waktu harus membaca pelan ke bawah, dan nama saya diawali huruf R. Can you imagine it? Alhamdulillah diurutan ketiga dari bawah (sesuai abjad), muncul nama saya. 

Saya keluar kamar dan mencari Mama di dapur, dan berbisik pelan, "Maaah, pengumuman tahap 1 nya udah keluaar..." Mama langsung tegang. "Daan ada namaku Ma." Alhamdulillaaaah. Allaah Maha Mendengar. 

Setelah itu, saya deg-degannya lebih tidak menentu lagi. Pengumuman itu di hari Jumat tanggal 22 April, dan tes nya dilaksanakan tanggal 28-29 April. Sangat singkat buat mempersiapkan semuanya. 

Bukan, bukan masalah berkas seperti rekomendasi dosen dan lain sebagainya, itu sudah saya siapkan jauh-jauh hari. Saya harus mempersiapkan diri saya menjawab pertanyaan, jadi saya harus belajar apa untuk tes ini? Apakah ada teori seperti cerita teman-teman waktu daftar UGM kemarin? Saya harus belajar dari mana? Dan akhirnya saya berangkat ke Jakarta, dengan pertanyaan-pertanyaan itu, pertanyaan yang memang tidak ada jawabannya. 

Saat tes di hari pertama, tanggal 28 April hari Kamis, kami calon mahasiswa mapro disiapkan di satu ruangan. Terpisah deret tempat duduk sesuai peminatan. Ada klinis anak, klinis dewasa, pendidikan, dan PIO (industri organisasi). Ternyata saya dapat jadwal FGD dan wawancara di hari esoknya. Lagi-lagi karena abjad nama, hehe. Tapi saya bersyukur, setidaknya saya bisa tanya-tanya seperti apa sih tesnya ke temen-temen yang tes hari ini. 

Saat tes psikotes, saya sempat kehilangan konsentrasi saat mengerjakan tes pilihan ganda. Saya sempat terloncati beberapa nomor di lembar jawaban, untung setelah salah sekitar 8 nomor, saya sadar dan cepat-cepat memperbaiki. Saat itu saya istighfar berkali-kali dan berusaha kasih sugesti, "Tenang Han, tetep fokus, ruangan ini memang tidak disetting hening dan ideal buat menyelesaikan tes, kamu harus tetap tenang." Alhamdulillah, setelah itu saya agak tenang. Tenang dan fokus mutlak diperlukan karena serangkaian tesnya cukup banyak dan cukup melelahkan. 

Sempet dapet kenalan dan ngobrol-ngobrol banyak sama teman-teman yang lain. Bersyukur banget bisa kenal orang-orang baru, lulusan S1 psikologi dari berbagai macam universitas, dan sempet makan soto bareng di kantin psikologinya, hehe. Setidaknya kalau nggak lolos, saya pernah cobain makan di kantinnya. 

Besoknya, saya lebih tenang karena saya beneran pasrah dan berusaha jadi diri saya sendiri saja. Allah pasti tau apa yang terbaik buat saya. Kalau toh saya nanti belibet saat FGD atau wawancara, berarti itu cara Allah menegur saya untuk harus mempersiapkan diri lebih baik lagi. 

Kami terbagi menjadi 3 kelompok kecil untuk mulai FGD dan selanjutnya antri wawancara. Saat FGD, membahas sebuah kasus bertemakan PIO dan diminta untuk memberi pendapat. FGD nya cukup santai dan teman-teman sekelompok bisa berpendapat dengan baik semua. Alhamdulillah.  

Saat antri wawancara, kami mulai akrab dan berbicara banyak hal, seperti kuota yang diterima UI tidak pasti 15 orang atau 20 orang. Kalau ternyata yang masuk kualifikasi cuma 12 orang, ya sudah. Kuota tidak terpenuhi tidak apa-apa. Saya mulai menciut saat itu, apalagi ingat kata-kata dosennya waktu buka sesi psikotes, mapro psikologi mulai tahun ini tidak bisa selesai dalam waktu 4 semester, minimal 5 semester. Fiuh. 

But im happy. Saya sempet melihat-lihat gedung tempat saya wawancara dan memberi sugesti ke diri saya sendiri, "Han, kamu harus bangga sama dirimu sendiri buat sampai di posisi ini. Apapun hasilnya nanti, itu masalah rejeki dan nggak rejeki." Setelah itu saya mulai tenang, saya duduk santai dan tidak mengeluarkan hape sama sekali, saya berusaha bersugesti positif dengan diri saya dan dua orang psikolog yang siap mewawancarai saya di ruangan nanti.

Alhamdulillaah, wawancara berjalan lancar sekitar 15 menit. Di ruangan saya ditanya berbagai hal dari alasan mendasar sampai hal-hal yang sudah dipelajari saat S1. Suasananya benar-benar tidak setegang yang saya takutkan, kami juga berdiskusi mengenai beberapa hal. 

Sampai di rumah, saya layaknya zombie. Pikiran saya tidak bisa diajak berdamai. Saat tiba-tiba hening, saya mengingat dengan jelas beberapa pertanyaan wawancara, saya melihat jelas posisi pulpen pewawancara, posisi tissue yang saya remat sepanjang mengerjakan psikotes. Saya antara mati dan hidup. Saya menaruhkan harapan hidup saya di pengumuman 16 Mei. 

Menuju detik-detik jam 3 sore tanggal 16 Mei itu, saya dan Mama seperti orang mau melahirkan (meskipun nggak tau gimana rasanya, tapi saya kira tegangnya hampir mirip, hehehe). Makan nggak bisa, mau berdiri dari duduk atau sekedar melakukan aktivitas seperti biasa pun tak sanggup. Saya takut. Saya berlatih di depan kaca, apa yang akan saya katakan kalau saya tidak lolos? Saya harus berekspresi bagaimana? Haruskah saya menangis? Atau pasti saya menangis? Apa iya saya sanggup menjalani plan B-E yang sudah saya siapkan? Apa ada uang buat bayar tes-tes lainnya yang tidak murah? Saya takut mimpi saya yang ini harus ditidurkan kembali seperti mimpi saya buat kuliah desain 6 tahun yang lalu. Saya trauma melihat tulisan "Maaf, Anda belum diterima" setelah membaca tulisan itu lebih dari tiga kali hehe. 

Jam 3, selepas sholat ashar, saya merefresh browser hape. Web UI nya down. Banyak sekali pasti yang lagi akses. 5 menit, 10 menit, 15 menit. Masih down. Nggak tahan, buka lewat PC. Masih down. Sampe akhirnya sekitar lebih 17 menit, saya berhasil buka pengumuman itu. Saya tidak berani baca, cuma lihat kok ada tata cara pembayaran, harus transfer lewat bank ini, itu. Nggak kuat, saya panggil Mama, "Mah, kok kayanya aku keterima ya?" Mama masuk kamar dengan air mata yang nggak berhenti mengalir sampe setengah jam setelahnya. 

And let me tell you. Itu salah satu moment paling bahagia dalam hidup saya. Melihat Mama menangis bangga buat saya. Rasanya semua usaha, lelah, capek, dan air mata kegundahan saya menguap bersih tidak meninggalkan jejak. Saya sadar satu hal, "Oh jadi ini ya rasanya bahagia karena hasil kerja keras kita, oh sebahagia ini ya rasanya ngeliat Mama terharu karena pencapaian kita, oh jadi hidup ini demi moment-moment seperti ini ya, bukan demi uang, demi status atau yang lain." Hidup itu demi melihat orang tua merasa nggak sia-sia sudah mendidik dan merawat kita sebesar ini. Itu satu pelajaran hidup yang akan terus saya ingat sampai kapanpun. Moment itu terekam dengan baik di memori saya. 

And do you know, the magic happen. Pengumuman itu tepat satu tahun setelah Mama bilang kata-kata ajaib yang membebaskan saya buat ngapain aja selama setahun setelah lulus. Saya wisuda bulan Mei, dan saya membaca pengumuman UI bulan Mei setahun setelah itu.

Kalau kamu merasa sangat beruntung, yakinlah doa Ibu dan Ayahmu sedang diijabah oleh Allah.

Dan apa yang saya rasakan saat membaca kalimat di awal postingan ini setelah pengumuman dan melewati berbagai macam rintangan beberapa bulan terakhir? Saya tergugu lama di depan laptop. Saya semakin yakin, rencana Allah sungguh Indah. Sebaik-baiknya penolong cuma dua, sholat dan sabar.

Alhamdulillah. Allahuakbar! 



3 comments:

  1. halooo, mau tanya waktu tes fgdnya di fakultas apa ya? bukannya tulisannya hanya gedung H, kampus baru ui depok ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo, iya di salah satu gedung di fak psikologinya. Kemarin dapetnya di gedung C. Kalo ga salah gedung C itu bukan buat perkuliahan tp ruangan dosen perpeminatan gitu. Kalo ditulis gedung H, mungkin gedung H Fak Psikologinya :)

      Delete
  2. Hallo kak, terima kasih sudah buat tulisan ini. Sangat mengharukan (aku sampai berkaca-kaca hehe..) dan sangat memotivasi :) semoga kuliah kakak terus dilancarkan dan semoga aku bisa mengikuti jejak kakak juga, aamiin :)

    ReplyDelete

< > Home
Powered by Blogger.
Passion Journal © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.